Selasa, 31 Januari 2012

TUGAS STILISTIKA SASTRA

TUGAS AKHIR SEMESTER
ANALISIS NOVEL, DRAMA DAN PUISI





 








Oleh
Sri Endah
18147/2010

Mata Kuliah: Stilistika











Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Padang
Padang
2011

1.      ANALISIS NOVEL
“Jangan Beri Aku Narkoba”
SINOPSIS
            Cerita ini diawali dari keinginan seorang wartawan yang sangat tertarik dengan kisah seorang gadis, yaitu Arimbi. Ia berusaha mengetahui kisah Arimbi dari orang yang memberinya pesan untuk mencari tahu kondisi Arimbi. Dialah Rajib, yang membuat seorang wartawan terinspirasi menemukan alamat dimana Arimbi berada. Butuh perjuangan dan kesabaran untuk mengorek kisah dari seorang pasien yang terjerat narkoba.
Melalui pendekatan psikologis yang matang, akhirnya wartawan tersebut berhasil membuat Arimbi untuk menceritakan kisah dia dan dunianya, yaitu “Narkoba”. Banyak orang bilang narkoba adalah benda jahat yang menyesatkan, jerat setan dan sebuah malapetaka.dunianya adalah lorong gelap. Bagi sebagian orang yang mengalaminya merupakan sejarah kelam yang patut dikubur dan dianggap tidak pernah ada.
Namun tidak bagi Arimbi, gadis kaya berusia sembilan belas tahun sebagai korban tak terelakkan dari kehidupan kaum jetset yang penuh kebobrokan. Menganggap bahwa narkoba adalah sebuah kebenaran, kemenangan dan kehidupan. Kehidupan yang selama ini ia inginkan, sebagai jalan keluar dari konflik-konflik keluarga yang membuatnya muak dan menderita.
Perselingkuhan, pertengkaran yang tiada henti dan berujung pada kekerasan yang selalu mewarnai kehidupan orang tuanya membuat dirinya  merana dan asing, kurangnya perhatian yang mereka berikan membuatnya merasa tak mengenal yang namanya keluarga. Arimbi membenci orang tuanya, membenci mereka yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri, membenci mereka yang melewati kehidupan dengan sandiwara hanya demi nama baik, membenci mereka yang menganggapnya tidak pernah ada dan menganggapnya baik-baik saja dengan uang dari kedua orang tuanya.
Rasa depresi dan frustasi beratnya, membuatnya lari, lari dari kehidupan monoton yang diciptakan orang tuanya menuju kehidupan yang ia ciptakan dengan pemahamannya sendiri, sesuatu yang dianggapnya jalan keluar. Arimbi ingin bebas, bebas dari kehidupan yang sangat menyebalkan. Bermula dari penyimpangan kecil, Arimbi menjadi remaja yang lepas kontrol, Arimbi mulai mengenal rokok, miras dan klub-klub malam, bergaul dengan laki-laki namun tak sedikitpun ia tertarik, baginya semua laki-laki biadap seperti ayahnya, menonton VCD porno dan tak sebatas itu, kekecewaannnya pada kedua orang tuanya membuatnya memiliki penyimpangan sexual, Arimbi mencintai sesama perempuan.
Rasa ingin melindungi terhadap perempuan ketika melihat ibunya menderita akibat kekerasan ayahnya, mebuatnya menjadi seorang lesbian. Hingga pada akhirnya ia pun mengenal Narkoba. Dalam waktu singkat narkoba mendominasi hidupnya, mendatangkan kesenangan dan penderitaan yang tidak disadarinya. Arimbi mencari jati dirinya lewat bubuk melenakan itu. Bagi Arimbi Narkoba adalah dewa penolongnya yang membuatnya terlepas dari dunia yang dibencinya.
Ditemukannnya hidup dan kemenangan menurut pemahamannya sendiri yang selalu ia yakini kenyataannya, kebahagiaannnya bertambah ketika ia menemukan sahabat dalam dunianya yang baru. Rajib, seorang pengedar yang membuatnya mengenal narkoba dan Vela, gadis malang korban kemiskinan yang telah meluluhkan hatinya. Arimbi jatuh cinta padanya. Jiwanya semakin melayang terbang kedunianya ketika Vela membalas cintanya, cinta yang terlarang menurut norma. Bersama Vela dan Rajib ia berpetualang dalam jeratan narkoba, mencoba segala bentuk narkoba dan menikmati kenikmatan semu yang dirasanya kekal, sakitnya sakaw tak membuatnya sadar.
Namun, Sesingkat ia mengenal sesingkat pula ia ketahuan, perubahan diri Arimbi telah membuktikan semuanya. Orang tua Arimbi marah besar mengetahui anaknya terjerumus ke dalam limbah hitam tersebut. Tetapi, apa pedulinya Arimbi. Ia semakin membenci orang tuanya yang memutuskan memasukkannnya kedalam panti rehabilitasi dan menjalani detoksifikasi, apalagi melihat alasan mereka adalah kehormatan dan nama baik karena berstatus sebagai orang penting.
Arimbi tak punya kekuatan untuk mengelak, ibunya memiliki sekawanan orang yang membuatnya tersudut dan tak berdaya. Arimbi mengalami penderitaan yang hebat, ia harus menahan sakitnya masa detoksifikasi, menahan ketidak betahannya dalam penjara panti, dan menjalani terapi-terapi menyebalkan bersama para psikolog dan yang paling menyakitkan baginya adalah kenyataan ia harus berpisah dengan Vela, Kekasih hatinya. Arimbi semakin menderita.
Dalam kurun waktu beberapa bulan, dia memang sembuh, dia sadar narkoba itu jahat, narkoba itu menghancurkan tetapi bukan berarti dia bersih. Arimbi tetap berpendapat bahwa narkoba adalah kebenaran dan kenyataan. Arimbi tak pernah memandang narkoba sebagai suatu kesalahan, sebagai suatu penyebab kehancuran, seperti yang orang-orang bertata krama diluar sana berfikir. Baginya narkoba hanya sebentuk barang yang sangat cerdik memainkan emosi, ia hanya pembuai. Apa bedanya narkoba dengan pengkhianatan, perselingkuhan dan penghamburan uang di pusat-pusat perbelanjaan semua sama saja.
Kejahatan terbesar narkoba adalah membuat pemakainya merasa narkoba adalah malaikat, jalan keluar dan penolong. Menipu si pemakai sehingga memandang dunia dan kehidupan tidak lebih penting dari sekedar kenikmatan saat memakainya. Pemakai merasa bahagia, ia tak sadar hidupnya sedang dirusak. Arimbi tetap pada keyakinannya, tetapi bukan lagi narkoba yang ia inginkan melainkan Vela, gadis yang menjadi pelabuhan cintanya. Arimbi benar-benar mencintainya. Hasrat dan perasaan cintanya membuat dirinya nekat dan melakukan pelarian, Arimbi kabur untuk Vela.
Kenyataan cinta dalam diri mereka membuat kehidupan baru yang sulit untuk diterima tapi, siapa yang peduli. Mereka tidak peduli, hidup mereka adalah milik mereka. Kisah Arimbi tak berhenti sampai disitu. Perawatan panti bermanfaat untuknya. Ia tak lagi menyentuh narkoba, ia sadar narkoba itu jahat namun tak merubah pandangannya. Bagi Arimbi ia tetap dewa penolong, narkoba bukan perusak tetapi hanya barang yang pandai mempermainkan emosi, narkoba hanya jalan untuk mendapatkan kehidupan yang ia inginkan, narkoba adalah jembatan untuk dia mendapatkan cinta, cinta Vela untuk dirinya.
Penyesalan selalu datang terlambat, ketika semua sudah terjadi kenapa ayah dan ibunya mau kembali, mau memperbaiki puing-puing hidupnya. Terlambat, Arimbi terlalu jauh melangkah, terlambat untuk membuatnya kembali normal, terlambat untuk menghargai orang tuanya. Kenapa mereka harus peduli disaat semua sudah terjadi.
Arimbi kokoh pada jalannya, ia protes, ia berontak, ia putus asa ketika penderitaan demi penderitaan ia lalui. Ia protes kenapa semua menyudutkannya, menganggapnya sebagai suatu kesalahan karena memakai narkoba. Menganggapnya gadis liar karena mencintai sesamanya, semua orang menyalahkannya dan menganggapnya korban bubuk mematikan. Semua mengkambing hitamkan narkoba atas tragedi kompleks yang terjadi dalam bathinnya. Semua tidak sadar ketika menyudutkannya sebagai kesalahan mutlak, mereka lupa akan kesalahan lain yang lebih berbahaya, yang membuatnya datang pada narkoba. Manusia. Orang tua dengan nurani bobroknya.
Bertata krama, berbudi luhur dan tidak mau kenal narkoba bahkan kepalang sibuk memberantasnya hingga lupa untuk meneropong hati para korbannya, korban narkoba tak akan pernah habis, dia adalah pelarian ketika masalah datang membelit dan tak tahu harus lari kemana. Narkoba ada ketika empati manusia tak ada. Arimbi berargumen bahwa ia menggapai narkoba ketika empati orangtuanya tak ada sebelum dia dicap salah dan setelah sekarang dia menjadi orang yang salah, mereka sibuk untuk mengangkatnya dari keadaan yang mereka anggap salah. Mereka tidak pernah sadar kesalahan bersumber pada diri mereka. Narkoba hanya pelarian, Arimbi hanya korban.
Dan pada akhirnya, Arimbi sampai pada kondisi perasaan manusia yang paling menyedihkan, putus asa. Ketika penderitaan demi penderitaan yang dirasanya semakin berat, Arimbi mengambil jalan pintas. Kematian. Arimbi mencoba bunuh diri.
”Bagiku saat ini, mati adalah sesuatu yang indah, kenapa harus takut. Hidupku adalah siksa dan mati hanya jalan keluar untuk hidup yang baru“. Namun, setelah Arimbi bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya pada seorang wartawan yang telah dipercayainya dan berjanji menjaga kerahasiaan masalahnya.
Atas penyesalan dan kesadaran Arimbi, ia akhirnya menyeludup masuk ke dalam mobil wartawan yang telah dipercayainya. Sesaat wartawan itu terkejut. Namun, Arimbi mengucapkan terima kasih kepada wartawan yang telah setia mendengar cerita Arimbi. Terucap beberapa kalimat “Terima kasih, Mbak. Saya hanya ingin memperjuangkan sekali lagi jalan hidup saya. Kembali pada orang tua saya atau di bawa ke Amerika hanya akan membuat saya jatuh lagi pada narkoba. Tolong hargai niat saya.”
NOVEL
Menurut Zaidin,dkk (2004:136), “Novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alaur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan: mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan.” Sementara Atmazaki (2005:40), menjelaskan “Novel merupakan fiksi naratif modern yang berkembang pada abad pertengahan ke-18. Novel berbentuk prosa yang lebih panjang dan kompleks daripada cerpen, yang mengekspresikan sesuatu tentang kualitas atau nilai pengalaman manusia.” Berikut disajikan unsur-unsur yang dibahas dalam novel.

1.      TEMA
Menurut Atmazaki (2005:178), “Tema merupakan suatu unsur dalam sastra yang memberi kesatuan karya itu. Tema menyediakan suatu jawaban bagi pertanyaan “Tentang apa karya itu”. Pendapat Esten (1993:22), mengemukakan bahwa “Tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang. Tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah ciptasastra.” Selanjutnya Zaidin,dkk (2004:203-204), menyatakan tema merupakan “Gagasan, ide, pikiran utama, atau pokok pembicaraan di dalam karya sastra yang dapat dirumuskan dalam kalimat pernyataan.”
Maka, tema dalam novel ini yaitu: Pelarian seorang remaja ke pangkuan narkoba karena rumah tangga yang bobrok.
Pembuktian:
(Hal.33, paragraf 6), “Mau apa kamu! Mau mengancam saya cerai. Ayo! Ayo! Ceraikan saya kalau berani.”
(Hal. 35, paragraph 4), “Setiap kali Mama dianiaya Papa di pagi hari, siangnya tak saya buang lagi kesempatan untuk berlari ke kamar Mama.”

2.      TOKOH
Menurut Esten (1993:27), “Penokohan ialah bagaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Karakter/tokoh adalah orang yang dilengkapi dengan kualitas moral dan watak yang diungkapkan oleh apa yang dikatakannya–dialog dan apa yang dilakukannya-tindakan.” Selanjutnya Zaidin,dkk (2004:206), “Penokohan adalah proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, sifat, atau kebiasaan tokoh pemeran suatu cerita.” Berikut dapat diidentifikasi masing-masing karakter tokoh yang terdapat dalam novel “Jangan Beri Aku Narkoba”.


No
Tokoh

Peran
Watak
Bukti
1.







2.







3.







Arimbi (tokoh utama)





Mama Arimbi






Papa Arimbi
Sebagai gadis yang terjerat narkoba.



Sebagai orang tua yang sibuk bekerja.



Sebagai orang tua yang sibuk bekerja.
Labil, egois, nekat, dan bergaya seperti kaum pria (tomboi)



Orang yang boros dan pamer, dan istri yang bodoh.



Pemarah, tidak peduli dengan keharmonisan keluarga, kekayaan dan kehormatan diutamakan

(hal.34, paragraf 1) Dada saya mulai sesak. Saya tak tahu, apakah saya sedang sedih, marah, atau takut.
(hal.118, paragraf 4) “Dan manusia-manusia brengsek itu adalah orang tua saya.”
(hal.230, paragraf 4) “Vela bukankah kita saling mencintai, bukankah cinta itu memang ada?”
(hal.26 paragraf 1) Tanpa saya minta Mama sudah membelikan begitu banyak barang untuk saya.
(hal.26 paragraf 5) tidak saya mengerti makna “orang kaya” kalau karena bukan teman-teman saya yang mengatakan itu.
(hal.40 paragraf 5) Saya dapati Mama dengan darah bilur di sana-sini.
(hal.40 paragraf 1) Berkali-kali Papa mencambuk mama.
(hal.33, paragraf 7) Plakkkk! “Perempuan sialan!”




3.       LATAR
Dalam Atmazaki (2005:106) mengemukakan bahwa “Latar adalah tempat dan urutan waktu ketika tindakan berlangsung. Latar merupakan faktor utama dalam memformulasi persoalan dan berpengaruh langsung dalam pengungkapan tema. ”Sementara Zaidin,dkk (2004:118) menjelaskan definisi latar bahwa “Latar merupakan waktu dan tempat terjadinya lakuan di dalam karya sastra atau drama.”
Maka dapat diidentifikasi latar yang terdapat dalam novel berikut.
1.       Latar Tempat
Di rumah keluarga Arimbi (hal.44 paragraf 5)
Mama tak kembali ke kursi makan. Seperti yang sudah saya duga, dia berbelok ke ruang tengah.
Di sekolah Arimbi (hal.64 paragraf 1)
Saya berjalan kea rah WC. Menggenggam dengan kencang kertas lintingan itu.
Di tempat pusat hiburan (hal.79 paragraf 8).
Pada pesta yang digelar seorang Bandar besar di sebuah pusat hiburan di Ancol
Di panti rehabilitasi, dan lain-lain.
2.      Latar Waktu
Latar waktu yang digunakan berkisar sekitar tahun 2000-an. Karena pada tahun ini narkoba merajalela di kalangan masyarakat. Terutama di kota-kota besar. Karena novel ini diterbitkan tahun 2004.
3.      Latar Suasana
Suasana dalam novel ini dihantui oleh kekacauan, tidak adanya keharmonisan dan sangat mencekam.
4.      GAYA BAHASA
Gaya bahasa yang dikemukakan oleh Atmazaki (2005:108) adalah “Gaya bahasa dalam karya sastra naratif merupakan bentuk-bentuk ungkapan yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan ceritanya.” Sedangkan Semi (2008:122), mengemukakan bahwa “Gaya dalam artian yang lebih khusus adalah memanipulasi penggunaan bahasa sesuai dengan yang ingin dinyatakan penulisnya, sehingga menimbulkan kesan kepada pembacanya.” Sedangkan Zaidin,dkk (2004:76), “Gaya merupakan cara pengungkapan dalam prosa atau puisi. Analisis gaya meliputi pilihan kata, majas, sarana retorik, bentuk kalimat, bentuk paragraf; pendeknya, setiap aspek bahasa pemakaiannya oleh penulis.”
Maka, dapat diidentifikasi gaya bahasa secara umum yang digunakan dalam novel ini mayoritas di dominasi oleh penyajian cerita dengan menggunakan gaya lisan dengan situasi lingkungan Jakarta.
Pembuktian:
“Emangnya ini hari apa?” (hal.93 paragraf 10)
“Kamu sejak kapan pake?” tanyanya. (hal. 121 paragraf 3)
“Bokap langsung sadar dan menceraikan istri mudanya.”
(hal.122 paragraf 1)
5.      LATAR BELAKANG BUDAYA
Pada umumnya latar budaya dalam novel ini didominasi oleh kemelut hidup kota metropolitan, sebagai kota yang ganas, bebas dari pergaulan dan semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Narkoba terjadi karena keluarga tidak menanamkan nilai-nilai yang baik di lingkungan itu sendiri. Sehingga lahirlah budaya yang keras, tidak taat norma sebagai reaksi dari ketidakpedulian keluarga dalam mendidik anaknya.
6.      KEHIDUPAN SOSIAL TOKOH
Tokoh yang diceritakan dalam novel ini sejak kecil sudah mengalami tekanan bathin, hidupnya selalu diawasi oleh orang-orang yang dibayar orang tuanya. Tokoh merasa terkekang dan tidak bebas, karena selalu berada dalam rumah megah dan mewah, dan tidak bisa lari kemanapun. Semuanya di awasi secara detail. Sehingga kehidupan social tokoh tidak berkembang dengan baik, ia bergaul dengan lingkungan yang salah, semua komplotan pecandu narkoba.

7.      KEADAAN EKONOMI MASYARAKAT
Dalam novel ini, masalah ekonomi tidak menjadi hal yang terlalu berat. Karena tokoh sendiri berasal dari keluarga yang kaya raya, mempunyai rumah yang mewah dan kedua orang tua yang memiliki pekerjaan yang sangat mapan. Sehingga, tokoh mampu membeli bubuk narkoba dari uang tabungan dan belanja hariannya. Namun, hal ini menjadi kekhawatiran karena ekonomi yang mapan belum mampu menghadirkan keharmonisan dan keselarasan di dalam keluarga.







2.      ANALISIS DRAMA
Si Padang:
Sebuah Fragmen
Oleh:
Hasanuddin WS
(Ditulis berdasarkan cerpen Si Padang Karya Hasrris Efefendi Thahar)
SINOPSIS DRAMA
            Naskah drama ini mengangkat cerminan perantau orang Minang yang berusaha mencari nama di rantau dengan cara apapun. Seorang pemuda etnis Minangkabau yang akrab disapa “Mansur” disuruh Ibunya mencari pekerjaan yang layak di Jakarta. Kebetulan Ibu Mansur mempunyai sepupu orang yang kaya raya. Beliau dikenal dengan sebutan Haji Kiram Datuk Nan Kuning Timbago Cahyo Nago. Pembangunan jalan-jalan di kampung, mesjid hingga rumah gadang kebanggaan keluarga bisa dilakukan atas sumbangan sang Mamak. Sang Datuk menjadi penghulu keluarga dan kebanggaan orang satu kampung.
            Mansur yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di belantara Jakarta, bingung dengan kondisi Jakarta. Bahkan, sudah satu minggu ia di rumah mamaknya, baru dua kali bertemu dengan puncak hidung mamaknya. Rumah sang mamak memang megah tetapi sepi karena masing-masing memiliki kegiatan tersendiri. Hanya Lidia putri bungsu sang mamak yang bisa ditemui Mansur tiap hari. Lidia suka memanggil Mansur dengan sebutan “Uda Padang”. Meskipun ada kekesalan bahwa Mansur dipanggil dengan nama itu, tapi apalah daya Mansur sadar bahwa Lidia adalah anak mamaknya yang kaya raya.
            Lidia menyuruh Mansyur membeli rokok dengan nada memerintah, Mansyur hanya bisa bersabar. Meskipun ia sempat mengumpat dalam hati kata-kata “Sialan! Kapunduang!”. Setelah Mansur pulang, ia memberikan rokok kepada Lidia, dan Lidia menyuruh Mansur mangambil uang kembaliannya, meskipun mulanya Mansur berbasa-basi. Sebelum Mansur pergi, Lidia sempat memberitahu bahwa ada orang yang mencari Mansur, namanya adalah Basir. Basir adalah teman dekat Mansur sewaktu di kampung dulu. Ia meninggalkan alamat kepada Lidia. Mansur mengambilnya di atas lemari. Wajah Mansur terlihat sumringah setelah membaca alamat sahabatnya.
            Dari arah yang berlawanan, seorang laki-laki berumur masuk ke rumah, dan berteriak memanggil nama Lidia. Rupanya lelaki itu ayah Lidia, Haji Kiram. Sang Datuk mencaci maki anaknya sendiri, bahwa dia ketahuan mengurung lelaki di kamar. Tak lain adalah kekasihnya sendiri. Datuk memaki Lidia sambil khawatir jika cerita tentang Lidia beredar di kampung. Sedangkan Sang Datuk, orang terhormat di kampung. Lidia masih membela diri, dengan keadaan yang ia temui bahwa Papa dan Mamanya selalu berada di luar.
            Namun, Sang Datuk marah besar, dan hampir saja menerkam Lidia. Beruntung, Mansur datang dan menyelamatkan Lidia. Mansur memang bangga pada mamaknya karena masih memperhatikan anak-anaknya menjunjung adat dan etika. Sayangnya, di waktu ia ke rumah Basril, bekerja sebagai sopir taksi gelap, suatu pagi mendapat telfon di bengkel. Mansur terpaksa menggantikan sahabatnya yang sedang flu. Basril menjadi kaget, karena alamat yang dituju adalah took mamaknya sendiri. Beruntung identitas Mansur tak diketahui oleh Sang Mamak. Ia menyuruh Mansur untuk berhenti di sebuah halaman gedung.
            Tiba-tiba Mansur melihat seorang wanita cantik. Betapa terkejutnya Mansur, disaat ia tahu bahwa seorang penghulu kaum, mamak kandungnya, kebanggaan orang kampung, dengan senang hati membawa perempuan lain yang jelas-jelas bukan istrinya. Badan Mansur menjadi panas dingin. Mansur meninggalkan mereka berada di sebuah vila. Meskipun diminta menjemput kembali, Mansur tak akan mau, kecuali jika ingin mempermalukan orang yang sangat dibanggakan di kampung.


UNSUR TEKS DRAMA
                        Menurut Semi (2008:192), “Drama adalah cerita atau tiruan prilaku manusia yang dipentaskan.” Sedangkan menurut Luxemburg, Van dan Weitsteijn (1989:158), “Yang dimaksud dengan teks-teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog-dialog dan yang isinya membentangkan sebuah alur.” Oleh sebab itu, untuk melihat sebuah drama yang sangat diperlukan adalah komunikasi dialog antar tokoh yang memberikan nilai tersendiri. Berikut unsur yang dibahas terkait dengan fragmentasi cerpen Si Padang oleh Hasanuddin WS.
1.       TEMA
Menurut Atmazaki (2005:178), “Tema merupakan suatu unsur dalam sastra yang memberi kesatuan karya itu. Tema menyediakan suatu jawaban bagi pertanyaan “Tentang apa karya itu”. Pendapat Esten (1993:22), mengemukakan bahwa “Tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang. Tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah ciptasastra.”
Maka dalam hal ini tema merupakan ide dasar yang melandasi pemaparan suatu cerita. Tema yang disajikan dalam naskah drama “Si Padang” ini adalah: Gambaran kehidupan dan perilaku perantau Minang di seluruh nusantara, salah satunya di Jakarta. Sebuah tema yang mengusung bagaimana keseharian orang Minang di perantauan. Memang benar ada sebahagian yang merantau dengan niat merubah nasib menjadi lebih baik. Namun, sering juga kita temui bahwa rata-rata orang Minang selalu ingin tampil keren meski tak mempunyai uang.
2.       ALUR/PLOT
Luxemburg, Van dan Weitsteijn (dalam Atmazaki, 2005:100-101), mendefinisikan pengertian tentang plot/alur. Menurutnya “Plot/alur adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku.” Dalam hal ini, Semi (2008:196-197) memaparkan secara garis besar alur dari sebuah drama sebagai berikut:
a.       Klarifikasi atau Introduksi
Dalam naskah drama Si Padang, dimulai dengan Mansur yang datang dari Padang menemui mamaknya, Haji Kiram seorang pengusaha yang sukses. Ia tinggal di rumah yang besar bersama mamaknya, dua orang pembantu (Ginah dan Parmin), beserta anak mamaknya yaitu: Lidia. Namun, rasa gelisah mulai menerpa bathin Mansur karena belum mendapat pekerjaan.
b.       Konflik
Selanjutnya terjadi persoalan tentang tidak adanya sopan santun dari Lidia kepada Mansur yang menyuruh dia membeli rokok unruk kekasihnya. Mansur harus bersabar, namun konflik bathin terjadi. Ia mengumpat dalam hati dan memaki-maki atas sikap Lidia padanya. Mansur ingat bahwa Lidia adalah anak mamaknya.
c.       Komplikasi
Cerita tidak hanya sampai disana, secara tiba-tiba ayah Lidia, Haji Kiram pulang ke rumah dan membentak, memaki, serta ingin menerkam anaknya yang ketahuan membawa laki-laki ke dalam kamar. Terjadi perdebatan, Lidia menyalahkan orang tuanya karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.
d.      Penyelesaian (denomen)
Penyelesaian naskah ini sangat mengejutkan, akhirnya Mansur membawa dan melarikan Lidia. Ia peduli, karena Mansur sudah mengetahui bagaimana sikap dan perilaku seorang mamak penghulu kebanggaan kaum di rantau. Sewaktu Mansur bekerja dengan Basril menjadi sopir taksi gelap, tanpa disadari yang diantarnya adalah mamak kandungnya sendiri untuk berkencan dengan perempuan cantik yang menjadi selingkuhannya.

3.      PENOKOHAN
Menurut Esten (1993:27), “Penokohan ialah bagaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Karakter/tokoh adalah orang yang dilengkapi dengan kualitas moral dan watak yang diungkapkan oleh apa yang dikatakannya–dialog dan apa yang dilakukannya-tindakan.” Penokohan yang terjadi dalam naskah drama Si Padang, yaitu sebagai berikut:
a.       Mansur: Lelaki yang penyabar, mau disuruh-suruh dan menyadari kodrat sebagai orang Minang.
Pembuktian:
“Walaupun ia seperti itu, sudah cukup bagiku merasa secuil rasa tenteram punya saudara di Jakarta yang begitu asing ini.”
“Sini. Biar sajalah Uda pergi beli rokok di prapatan itu.”
“Ndak usah lah. Uda ikhlas kok menolong Lidia.”
b.      Haji Kiram Datuk Nan Kuning Timbago Cahyo Nago: Pemarah, egois, namun yang paling jelas adalah seorang pengkhianat kaumnya.
Pembuktian:
     “Bikin malu! Bikin sial! Mencoreng arang!”
     “Aku kini meninggalkannya di sebuah villa di puncak dengan perempuan itu.” Dialog oleh Mansur.
c.       Lidia: Suka memerintah, pamer dan masih labil.
Pembuktian:
     “Beliin rokok ke prapatan itu dong!”
“Mesjid Raya yang megah di kampung juga di bangun karena sumbangan Papa.”
“Ini juga salahnya Papa. Gak bakalan begini kalau Papa sama Mama selalu ada di rumah.”



4.       LATAR/SETTING
Dalam Atmazaki (2005:106) mengemukakan bahwa “Latar adalah tempat dan urutan waktu ketika tindakan berlangsung. Latar merupakan faktor utama dalam memformulasi persoalan dan berpengaruh langsung dalam pengungkapan tema.” Latar yang disajikan dalam naskah drama berikut meliputi:
a.       Latar Tempat: di Jakarta.
Pembuktian:
     “Sudah seminggu aku menginjakkan kaki di Jakarta ini, baru dua kali aku bertemu puncak hidung mamakku.”
b.      Latar Waktu: di siang hari.
Pembuktian:
“Uda Padang. Lagi ngapain? Tidur-tiduran ya?”
c.       Latar Suasana: Datar dan mencekam.
Pembuktian:
“Jangan Lid, sini buat Uda Mansur aja. Uda memang lagi butuh uang, kok.”
“Mau jadi anak macam apa kamu?”

5.       GAYA BAHASA
Gaya bahasa yang dikemukakan oleh Atmazaki (2005:108) adalah “Gaya bahasa dalam karya sastra naratif merupakan bentuk-bentuk ungkapan yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan ceritanya.” Sedangkan Semi (2008:122), mengemukakan bahwa “Gaya dalam artian yang lebih khusus adalah memanipulasi penggunaan bahasa sesuai dengan yang ingin dinyatakan penulisnya, sehingga menimbulkan kesan kepada pembacanya.”
Gaya bahasa yang digunakan dalam naskah drama ini cenderung menggunakan ungkapan-ungkapan dalam bahasa daerah disaat tokoh berbicara memalui dialog. Bahasa daerah yang ditemui yaitu bahasa Minang dan Jakarta.
Pembuktian:
 “Sialan! Kapunduang! Kalaulah orang kampungku tahu begini pekerjaanku di Jakarta, dirumah mamakku, apalah kata mereka.”
“O, bener nih? Nolak, ya? Gua kasih ama Parmin ya?”

3.      ANALISIS PUISI
            Dalam Luxemburg, Van dan Weiststeijn (1989:175), menyatakan “Yang dimaksud dengan teks-teks puisi ialah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan sebuah alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu.” Sedangkan Semi (2008:138) menjelaskan tentang puisi yaitu “Puisi secara umum di tulis dengan menekankan kepda larik-larik sehingga jarang di tulis samapai pada baris pinggir kanan kertas….” Berikut akan dijelaskan hal yang berkaitan dengan puisi:
1.      TEMA
Menurut Atmazaki (2005: 178), “Tema merupakan suatu unsure dalam sastra yang memberi kesatuan karya itu. Tema menyediakan suatu jawaban bagi pertanyaan “Tentang apa karya itu”. Pendapat Esten (1993:22), mengemukakan bahwa “Tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang. Tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah ciptasastra.” Jadi, pengungkapan tema dalam sebuah puisi dijadikan sebagai ide dasar yang melandasi sebuah puisi tersebut ditulis.
2.      AMANAT
Menurut Esten (1993:22), “Sedangkan pemecahan suatu tema disebut amanat. Di dalam amanat terlihat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Amanat dapat diungkapkan secara eksplisit (berterang-terangan dan dapat juga secara implisit (tersirat).” Oleh sebab itu, amanat mampu menciptakan pola-pola baru berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan.

3.       KEMERDUAN BUNYI
Semi (2008:164-166), menyebutkan bahwa “Bunyi dalam puisi menghasilkan rima dan irama.” Berikut penjelasannya:
a.       Rima
Rima merupakan pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan adanya bunyi yang berulang-ulang dalam susunan yang harmonis menyebabkab terjadinya keindahan dan kemerduan.
b.      Irama
Hal lain yang terkait dengan kemerduan bunyi adalah irama (rhythm) yaitu semacam gerakan atau alunan yang teratur, rentetan bunyi yang berulang yang menimbulkan variasi bunyi yang menciptakan gerakan yang hidup.

4.      ASOSIASI DAN IMAJINASI
Masih dalam Semi (2008:168-169) membahas hal yang berkaitan dengan asosiasi dan imajinasi, yaitu sebagai berikut:
a.       Asosiasi
Asosiasi berkaitan dengan masalah mental dan perasaan. Yang dimaksud dengan asosiasi adalah kemampuan mental untuk menghubungkan suatu gagasan/objek dengan gagasan atau objek yang lain.
b.      Imajinasi
Imajinasi lebih merupakan upaya penyair dalam menghadapi objek atau suatu abstraksi serta bagaimana cara ia merespon terhadapnya.

1)      Judul Puisi: Bahasa Kenangan
Penulis       : Akmal


Dalam alunan detik yang berlalu
Disemilirnya angin nan syahdu
Dihamparan manisnya anggur cinta
Sanjung agung mimpiku

Sebentuk asap rindu kabuti kalbuku
Samar terlihat api kasmaran
Perlahan habis bakar cintaku
Berbaris bak huruf-huruf sembilu

Serpihan luka musnahkan aku
Terkubur bisu di kalbu namamu
Di antara cinta, luka dan air mata
Terukir bahasa keangan
Di setiap puing-puing keindahan
Pada puisi hasil buah tangan Akmal, yang berjudul “Bahasa Kenangan” sepintas teringat akan masa lalu. Karena banyak orang yang menafsirkan bahwa kenangan berkaitan dengan suatu bayangan/ingatan yang telah terjadi di masa lampau. Apabila kenangan itu sudah menjadi perjalanan, maka manusia bisa menuturkannya memalui bahasa. Empat bait pertama menjelaskan bahwa waktu yang telah dijalani manusia pada masa yang indah hanya dapat diulang kembali lewat mimpi. Namun, penulis tetap bangga menyemai “cinta” pada seseorang yang sangat ia sayangi, meski itu hanyalah mimpi.
Empat bait berikutnya, penulis merasakan keindahan yang mendalam, rasa rindu yang tak dapat dibendung lagi. Namun, kerinduan itu hanya dirasakan oleh satu jiwa, bukan dua jiwa yang saling menyatu. Kini, penulis merasakan rindu itu hanya sebuah pengharapan yang sia-sia. Ia telah pergi jauh, karena orang yang disayang tidak pernah merasakan hal yang senada dengan penulis. “rinduku pupus, cintaku hilang, “, mungkin itulah yang dirasakan penulus.
Pada lima bait terakhir, menegaskan kepada pembaca bahwa tangisan luka membuat jiwanya menjadi rapuh, jiwanya kini tak berdaya lagi. Semua itu terasa sakit di saat mengingat orang yang benar-benar disayangi. Cinta itu kini telah terluka, hanya air mata yang menjadi senjata terakhir sang penulis. Namun, terdapat suatu kekaguman, kebanggaan bahwa masa lalu itu masih bisa diceritakan, meskipun tidak dapat dirasakan. Ia akan terus berlalu sepanjang waktu.
Bahasa kenangan, sebuah puisi yang menghadirkan luapan emosi seseorang terhadap kekecewaan yang ia alami di masa lalu, namun ia tetap ikhlas menerima semua yang telah tuhan hadiahkan untuk hidupnya. Hidup tidak selalu identik dengan penderitaan, jadikanlah hidupmu lebih baik dan indah.
1.      Tema, tema dalam puisi ini adalah luapan emosi atas kekecewaan yang terjadi pada waktu silam.
2.      Amanat, amanat yang ingin disampaikan oleh penulis adalah: Setiap orang mempunyai masalalu, jangan pernah berputus asa. Jadikan semuanya untuk memulai kehidupan yang baru.
3.      Kemerduan Bunyi
a.       Rima: Rima puisi ini sangat indah dan selaras. Dapat dilihat pada dua bait pertama yaitu,
Dalam alunan detik yang berlalu
Disemilirnya angin nan syahdu
b.      Irama: Irama pada bait yang ditulis menyatu dan menghadirkan kesan yang bermakna. Dapat dilihat pada bait berikut:
Di antara cinta, luka dan air mata
4.      Asosoasi dan Imajinasi
a.       Asosiasi: Terlihat perasaan yang sangat menyedihkan, emosi yang mendalam. Yaitu pada bait:
Serpihan luka musnahkan aku
b.      Imajinasi: Penulis mengajak pembaca untuk membayangkan tentang suatu hal. Terlihat pada dua bait terakhir puisi ini, yaitu:
Terukir bahasa keangan
Di setiap puing-puing keindahan
2).  Judul Puisi: Tak Berbunyi
Penulis : Eka Safria PA
            Ceritaku tak pernah usai di lembaran waktu
Ribuan sepi berserakan bersama
Air mata yang mengering,
Kemudian basah lagi

Kukepakkan sayap patahku
Berharap terbang walau sejengkal
Meninggalkan tanah
Meninggalkan masa lalu
Meninggalkan tempat ini…

Dimana sebuah kisah kuceritakan
Butiran kenangan hanya meninggalkan
Berkas air mata di kertas buramku
Kukan terus bercerita pada waktu
“Kisahku tertulis di lembaran buku tak bernomor halaman”
Padang, Maret 2009
            Judul puisi yang di tulis sangat menarik. Dari judul “Tak Berbunyi” bisa dianalisis bahwa jika sesuatu itu tidak melantunkan bunyi, berarti dalam keadaan diam, hening, bisu dan kaku. Sebuah judul yang mengajak pembaca untuk merenungkan apa yang akan disampaikan. Melalui penghayatan yang mendalam, seseorang mampu menafsirkan suatu keadaan yang dihadapinya saat ini.
            Empat bait pertama, menjelaskan bahwa semua orang, siapapun itu akan menjalani kehidupan, pada kehidupan itu dapat kita jumpai beraneka macam peristiwa baik itu suka maupun duka. Dan cerita tentang perjalanan hidup ini tak akan pernah usai, ia akan berhenti apabila kita tidak dapat menikmati kehidupan ini. Kembali menemui Sang Pencipta.
            Kondisi jiwa kadangkala ada yang dihantui oleh rasa keramaian, namun sering kita menjalani kesendirian terutama pada malam hari. Maka yang kita lakukan saat itu hanyalah merenung., diam dan membisu. Hal ini akan memicu seseorang untuk mengeluarkan air mata, terutama disaat mengingat hal-hal yang sangat sensitif, dan menghadirkan luapan emosi yang tidak dapat dibendung lagi. Yang berjatuhan adalah air mata kesedihan.
            Disaat semua emosi sudah terlepaskan lewat air mata, disana muncul secuil keinginan, secuil harapan dan secuil tindakan untuk mencari jalan bagaimana penderitaan itu tidak seperti keadaan yang menyedihkan.  Maka, lima bait berikutnya terlihat sebuah tindakan untuk berusaha mencari solusi yang terbaik, meninggalakan semua yang telah terjadi dengan kondisi yang tidak baik. Ya, meninggalkan masa lalu dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
            Pada lima bait terakhir, menegaskan bahwa tidak ada gunanya untuk mengingat masa lalu, apalagi masalalu itu adalah sesuatu yang pahit. Apabila kita terus berada dalam kondisi yang demikian, jiwa ini hanya akan merasakan Keterpurukan. Maka, disaat penulis menceritakan masalalunya, ia kembali menangis dan meneteskan air mata pada lembaran kertas yang ia tulis. Tapi, ada baiknya untuk menulis tentang cerita hidup, karena buku tak pernah jemu mendengar jeratan dan rintihan cerita perjalanan hidup manusia. Ia adalah tempat berbagi yang sangat setia.
            Dan, apa yang terjadi disaat kita telah menuliskan kisah hidup ini, kita hanya bisa diam tanpa berucap apapun. Namun, ketenangan bathin tersendiri dapat kita rasakan. Hal itu yang dirasakan penulis, merangkai senbuah sajak tentang perjalanan hidup, tanpa berucap sepatah katapun. Tak berbunyi (diam).
1.      Tema, tema yang disajikan dalam puisi ini adalah curahan hati pada kertas buram, hanya menulis tanpa berucap.
2.      Amanat, amanat yang ingin disampaikan oleh penulis adalah: Jika ingin merubah hidup, maka jangan berjalan di tempat yang sama. Lakukan suatu perubahan dan masa lalu adalah perjalanan hidupmu.
3.      Kemerduan Bunyi,
a.       Rima: Pada puisi ini tidak menekankan kemerduan bunyi. Puisi yang ditulis berbentuk seperti prosa, namun puisi ini tetap menjadi tulisan yang sangat indah.

b.      Irama: Terdapat irama yang menarik dalam puisi ini. Ada penekanan bunyi yang berulang, yaitu:
Meninggalkan tanah
Meninggalkan masa lalu
Meniggalkan tempat ini…

4.      Asosoasi dan Imajinasi
a.       Asosiasi: Disini, perasaan dan mental penulis diacurahkan sepenuh hatinya. Tanpa ada hambatan, terlihat pada bait:
Air mata yang mengering
Kemudian basah lagi
b.      Imajinasi: Sangat menarik sekali, penulis mengajak pembaca untuk berimajinasi dan mengandaikan jika manusia bisa seperti burung. Berikut baitnya:
Kukepakkan sayap patahku
Berharap terbang walau sejengkal

3)      Judul Puisi: Sastra
Penulis       : Rizki Goenawan
Kata-katamu menggugah jiwa
Kadang angkuh ini kau buta rapuh
Di saat marah kau begitu merah
Putih itu pun datang begitu pilu
Biar katanya kamu nggak zaman
Tapi zaman ‘kan terus ikuti kita
Lewat asmara, etika, dan norma
Kita adalah merpati klasik

Tidak lain pecundang bahasa
Senar nada kehidupan ‘kan selau kita tempuh

Dari judul yang di tulis, jelas bahwa penulis ingin mencermati dan melukiskan bagaimana keadaan ilmu sastra di negara ini. Puisi yang sederhana, namun padat akan makna. Empat bait pertama menengaskan bahwa setiap hal yang berbuansa sastra, kata-kata yang dilahirkan akan membawa bergam makna. Kadangkala, untuk satu kata setiap orang bisa menafsirkan makna yang berbeda. Tergantung kembali pada penafsirannya masing-masing.
Apa yang dihasilkan oleh sastra, kadangkala mendukung suatu keadaan dengan polosnya, kadangkala menghadirkan kondisi yang sangat menyakitkan apabila diungkapkan secara nyata. Sehingga, orang butuh pendalaman yang tinggi untuk mengenal dan mengetahui seperti apa sastra itu dalam kehidupan.
Meskipun tingkat perkembangan sastra tersaingi oleh perkembangan IPTEK yang semakin canggih, namun sastra tetap hidup di tengah masyarakat. Seperti itulah yang dijelaskan pada empat bait berikutnya. Sastra mampu hadir lewat asmara, ia mempunyai nilai etika dan norma yang sesuai dan diterima masyarakat. Melalui sastra, seorang penulis bisa menghadirkan fenomena-fenomena yang sedang dibicarakan dan dihadirkan melalui sebuah tulisan yang menarik, indah dan bermakna.
Meskipun sastra dianggap sebagai sebuah hasil tulisan yang bersifat fiksi, penuh khayalan, maupun imajinasi, sehingga takut akan bahasa yang lugas dan tegas, namun tidak dapat kita pungkiri bahwa kehidupan ini tidak hanya dijalani dari satu aspek saja. Kita bisa menilai dari berbagai aspek tentang kehidupan yang terjadi, salah satunya melalui sastra. Seperti menulis sebuah puisi yang menyoroti keadaan pemerintah saat ini. Jadi, sastra tetap hidup dan tumbuh, sastra juga kebutuhan manusia.
1.      Tema, tema yang disajikan dalam puisi ini adalah perjuangan mempertahankan kehadiran sastra di tengah-tengah masyarakat.
2.      Amanat, amanat yang ingin disampaikan oleh penulis adalah: Sastra bukanlah sesuatu yang kuno, ia hadir pada masyarakat lewat etika, nilai dan norma. Jadi, ingat kembali bagaimana pentingnya sastra bagi kehidupan.
3.        Kemerduan Bunyi
a.       Rima: Terdapat susunan yang cukup harmonis, meskipun tulisan sudah dikembangkan dalam bentuk puisi bebas. Yaitu pada bait:
Di saat marah kau begitu merah
b.      Irama: \Irama disini menekankan bunyi yang berulang, tapi tidak terlalu jelas. Terdapat pada bait:
Di saat marah kau begitu merah
Putih itu pun datang begitu pilu
4.      Asosoasi dan Imajinasi
a.       Asosiasi: disini perasaan penulis terhadap sastra sangat ditekankan. Dapat dilihat pada bait:
Kita adalah merpati klasik
Tidak lain adalah pecundang bahasa

b.      Imajinasi: Pembaca di ajak untuk bekhayal tentang sastra, terdapat pada bait:
Biar katanya kamu nggak zaman
Tapi zaman ‘kan terus ikuti kita

4)      Judul Puisi: Gerimis
Penulis       : Adek Risma Dedees

Tik…tik…tik…
Satu…satu…satu…
Namun tetap berpadu


Sangat menarik melihat puisi yang satu ini. Judul yang sangat sederhana, dan menampilkan puisi yang mini. “Gerimis”, menyajikan tiga bait. Pada bait pertama, “Tik…tik…tik…” bahwa keadaan disaat gerimis memang demikian adanya. Gerimis menghasilkan butir-butir air hujan, yang tidak begitu lebat, jaraknya renggang. Pada bait kedua, “Satu…satu…satu…” bahwa gerimis memang jatuhnya satu-satu, datang tidak menyerbu, dan tetap tenang, selalu konsisiten dengan jarak.
Bait terakhir “Namun tetap berpadu” menjelaskan bahwa meskipun jatuh ke bumi satu-satu, namun mereka turun secara bersamaan, penuh keserasian. Tidak terjadi perselisihan, membawakan nuansa persatuan. Ini jika ditilik dari makna gerimis itu sendiri.
Apabila kita menafsirkan makna yang berbeda, maka dapat diketahui bahwa gerimis itu dianalogikan kepada kehidupan. Seperti air yang turun satu-satu, maka dalam kehidupan ini manusia dikenal sebagai makhluk individu, tak terbagi. Begitulah kehidupan, adakalanya secara jasmani manusia dikatakan sebagai makhluk individu,  ia teridiri dari unsur fisik yang berbeda antar satu dengan yang lain.  
Namun, dikaitkan dengan bait terakhir, ingat kembali bahwa posisi manusia dalam kehidupan ini tidak hanya sebagai makhluk individu, tetapi juga sebagai makhluk sosial, yang saling membutuhkan pertolongan dari individu lainnya. Oleh karena itu, ia hadir dalam kehidupan, dari segi sosial akan hidup bersama dan tetap berpadu antara yang satu dengan yang lain.
Begitulah kita menilai sebuah kehidupan ini, dari hal yang sederhana. Dari hal yang sering kita amati, yaitu adanya “Gerimis”, mampu memberikan arti bahwa manusia adakalanya harus memposisikan dirinya sebagai makhluk individu dan harus ingat kembali, hal itu tidak selamnya berlaku karena sebagai makhluk sosial manusia dituntut memiliki nilai-nilai keharmonisan, kebersamaan, keserasian, dan terutama sekali keterpaduan, seperti “Gerimis”.
1.      Tema, tema yang disajikan dalam puisi ini adalah makna implisit dari sebuah rasa persatuan.
2.      Amanat, amanat yang ingin disampaikan oleh penulis adalah: manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk individu seutuhnya. Melainkan juga sebagai makhluk sosial. Jika gerimis adalah sebuah masyarakat, maka yang “satu-satu” itu adalah individu. Sedangkan “tetap berpadu” adalah makhluk sosial itu sendiri.
3.      Kemerduan Bunyi
a.       Rima: Rima puisi ini sangat jelas sekali. Pengulangan bunyi dapat dilihat pada bait pertama dan bait kedua.
Tik…tik…tik…
Satu…satu…satu…

b.      Irama: Irama yang disajikan memberikan tanda jeda, berhenti sementara disaat membaca puisi. Seperti pada bait:
Tik…tik…tik… (di baca perlahan)

4.      Asosoasi dan Imajinasi
a.       Asosiasi: disini penulis mencoba menggabungkan antara kondisi disaat gerimis itu jatuh, dan harmonisasi yang terjadi disaat gerimis itu terjadi. Dapat dilihat pada:
Satu…satu…satu…
Namun tetap berpadu
b.      Imajinasi: Semua bait yang dihadirkan dalam puisi ini, menyajikan imajinasi tersendiri. Pembaca merasakan fantasi yang mendalam untuk menyibak bait demi bait dari puisi “gerimis” itu sendiri.


5)      Judul Puisi: Saksi Bisu Kemeja Lusuh
Penulis       : Rocky Fitra Yaldi

Aku hanya bercerita tak perlu kau tanggapi
Umurku tak muda lagi bahkan untuk ukuran terpelajar
Rambut kusut, mata kisut, kulit masai
Kepalaku setengah botak selalu mengkerut
Berpikir dan memikir tanpa terpikir
Kapan berhenti merenung waktu

Debu pasir, angin pantai, bau bangkai
Sepatuku berjalan di atas tahi anjing
Kemeja yang sama tiap pekan
Berganti hari, berganti daki
Tas kulit usang bergoyang tiap pagi
Gemerincing bunyi pulpen seirama perut keroncong
Sarapan pagi selalu sama, air putih dan roti kering
Tak pernah terperihkan jadi kuli kampus

Wisuda akan datang, aku datang
Kemeja lusuh semakin pudar
Warnanya tak seindah pelangi sore
Ketika duduk melongo pertama kuliah
Ijazah aku terima sekian tahun
Penantian menanti pengangguran
Aku hanya bisa menatap kemeja lusuh
Jadi alas kaki depan kamarku

Padang, 27 Maret 2009

Puisi ini melukiskan kehidupan orang-orang yang berusaha mencapai gelar sarjana, siapalagi jika bukan “Mahasiswa”. Seorang mahasiswa laki-laki, identik dengan pakaian kemeja. Pada enam bait pertama menjelaskan bagaimana kondisi fisik dari seorang mahasiswa yang tengah berupaya menuntut ilmu. Kondisi wajah yang melelahkan, selalu berfikir. Mahasiswa hidupnya adalah untuk tugas-tugas. Kadang kala, ia sempat berfikir dan merenung sampai kapan keadaan ini terus berjalan.
Pada delapan bait berikutnya, menjelaskan bagaimana ia melewati hari-harinya yang terasa sangat menjemukan. Dengan menggunakan perlengkapan seadanya, bahkan untuk makan hanya seadanya saja. Begitu yang dialami rata-rata mahasiswa, belajar hidup mandiri menuju kedewasaan. Selama berstatus menjadi seorang mahasiswa, maka roda kehidupan tidak jauh berputar dari tempatnya.
Selepas menjalani masa kuliah sesuai dengan perjalanan yang telah ditempuh selama ini, maka wisuda akan dihadapi. Tidak mudah melewati peristiwa itu, pakaian yang dikenakan dulunya bersih dan baru, oleh perjalanan waktu berubah menjadi pudar. Perjalanan waktu yang memakan entah empat tahun atau kurang, bahkan lebih. Menerima ijazah setelah tamat, bukan lapangan kerja yang menanti. Mahasiswa siap menerima status menjadi “Pengangguran” sebelum mendapat pekerjaan yang baru. Hal itu juga dirasakan penulis, ia hanya bisa terdiam di saat kemeja lusuh yang menemani hari-hari kuliahnya menjadi alas kaki di depan kamar. Maka, berjuanglah lebih keras untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Berganti menjadi sebuah kemeja yang berharga.
1.      Tema, tema yang disajikan dalam puisi ini adalah realitas yang terjadi pada mahasiswa di dalam menjalani kehidupan kampus.
2.      Amanat, amanat yang ingin disampaikan oleh penulis adalah: Berusahalah mencapai kesuksesan itu, meskipun awalnya pahit. Tidak ada pengorbanan dan usaha, hasil yang diperoleh akan sia-sia.
3.      Kemerduan Bunyi
a.       Rima: rima yang disajikan terlihat pada bait berikut:
Rambut kusut mata kisut, kulit masai
Wisuda akan datang, aku datang
b.      Irama: keharmonisan bait yang disajikan menghadirkan nuansa yang indah, dan memiliki makna tersendiri. Terlihat pada bait berikut:
Gemerincing bunyi pulpen seirama perut keroncong
4.      Asosoasi dan Imajinasi
a.       Asosiasi: Perasaan yang dihadapi penulis dalam puisi ini adalah kekhawatiran yang mendalam akan nasib seorang pengangguran. Menjadi tekanan bathin apabila sudah menjadi sarjana, namun tidak memiliki pekerjaan. Terlihat pada bait:
Penantian menanti pengangguran
b.      Imajinasi: Penulis membawa pembaca ke dalam suatu kondisi yang sangat banyak diinginkan oleh orang-orang yang ingin mendapatkan ilmu, dan sukses dalam kehidupan. Yaitu dunia kampus dengan orang-orang yang disebut sebagai “Mahasiswa”. Terdapat pada bait berikut:
Sarapan pagi selalu sama, air putih dan roti kering
Tak pernah terperihkan jadi kuli kampus










KEPUSTAKAAN
Anonim. 2009. OASE: Kumpulan Karya Sastra. Padang: UK-Kesenian UNP.
Atmazaki. 2005. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia.
Endah, Alberthiene. 2004. Jangan Beri Aku Narkoba. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Esten, Mursal. 1993. Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa.
Luxemburg, Jan Van. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
Semi, M  Atar. 2008. Stilistika Sastra. Padang: UNP Press.
WS, Hasanudin.___. Bahan Ajar: Naskah Drama Si Padang. Padang: FBSS UNP.
Zaidin, dkk. 2004. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.
































Tidak ada komentar:

Posting Komentar