NIM/BP: 18147/2010
PERTANDINGAN EMOSI
Terjadi perdebatan yang hebat antara dua kubu. Kubu pertama, emosi positif ia bercerita bagaimana manusia meyukainya. Kubu kedua, emosi negatif bercerita pula banyak manusia yang melihatnya. Sepertinya pertandingan ini patut di tonton oleh semua manusia di bumi ini. Saya yakin, akan menjadi pertandingan yang lebih seru dibandingkan dengan pertandingan sepak bola. Jika tidak percaya, bacalah kisah di bawah ini dengan teman-teman, keluarga, tapi yang paling bagus dengan diri sendiri.
“Ayo, kita mulai pertandingan.” Ujar Semangat. “Aku tidak kuat,” lanjut Si Lemah. “Bagaimana dengan kamu? Apakah tim kamu sudah siap untuk bertanding?” Tanya Si Penasaran. Tampaknya, masing-masing anggota sibuk dengan persiapan yang harus dihadapi. “Kalau begini kapan mulai pertandingan, saya sudah bersiap-siap dari tadi. Menurut waktu semestinya, pertandingan akan di mulai lima belas menit lagi, jika sudah waktunya saya harus meniup peluit. Tidak ada tawaran.” Ujar Si Disiplin. “Jangan begitu donk Pak, saya masih menunggu sahabat saya. Dia kapten dalam tim kami.” Sela Si Toleransi. “Tidak ada kata nanti, pokoknya jika jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, maka pertandingan akan saya mulai. Saya harap semuanya mengerti.”
Suasana di ruangan itu menjadi kaku. Untunglah, tak lama kemudian para peserta sudah di hitung oleh Si Teliti. Si Teliti saat ini bertindak sebagai panitia dalam pertandingan emosi. Ya, kubu emosi positif akan bertanding dengan kubu emosi negatif. Pertandingan ini sangat ramai, dihadiri oleh penonton baik dari dalam negeri, maupun dari luar negeri. Semua membawa spanduk untuk mensupport tim kebanggaan sendiri. Lagu-lagu yang menjadi pamor masing-masing kubu telah di persiapkan semaksimal mungkin. Kapten dari emosi positif adalah Kebahagiaan, sedangkan kapten dari emosi negatif adalah Kesedihan.
“Baik, perkenalkan saya Si Adil. Dalam pertandingan ini saya berperan sebagai juri. Untuk kubu pertama, emosi positif terdiri dari sebelas pemain. Masing-masing pemain adalah (Semangat, Toleransi, Syukur, Sabar, Cinta, Kuat, Kagum, Percaya, Tulus, Ikhlas, dan Kebahagiaan). Kubu emosi negatif terdiri dari (Sakit Hati, Marah, Jijik, Iri Hati, Sombong, Lemah, Malu, Menyesal, Putus Asa, Dendam, dan Sedih).” Setelah anggota dari kedua tim diperkenalkan, panitia juga menjelaskan aturan pertandingan. Dalam pertandingan ini, yang menjadi pemenang adalah tim yang sanggup menjawab pertanyaan dengan benar.
Anehnya, juri hanya memberikan satu pertanyaan. Pertanyaan itu berbunyi: Jelaskan alasan mengapa manusia harus memilih tim Anda!. Semua yang ada di ruangan terkejut mendengar pertanyaan itu. Ruangan yang tadinya kaku, menjadi hiruk pikuk. Terutama, kehebohan datang dari kubu emosi negatif. Lalu, anggota dari kubu emosi negatif menjawab, “Manusia itu memilih tim kami karena mereka tidak kuat dalam kondisi yang selalu positif, mereka sering terombang-ambing disaat mereka menemukan masalah, maka sikap yang hadir adalah putus asa. Disaat manusia putus cinta, manusia akan sakit hati. Disaat nilai mereka jelek, mereka akan marah.” Jawab Si Sombong.
Si Sombong tidak menghentikan pembicarannya, ia terus menambahkan “Saat manusia melihat orang yang berkudis, mereka akan jijik. Disaat tetangganya beli mobil baru, mereka iri hati. Saat mereka miskin, mereka akan malu. Saat mereka benci dengan seseorang, maka dendam akan muncul. Dan disaat mereka kehilangan orang yang berharga dalam hidup, mereka akan sedih.” Semua yang hadir menganggukkan ucapan Si Sombong. Namun, karena ia telah ditakdirkan sebagai emosi negatif, pendapat seperti itulah yang bermunculan.
Setelah itu, juri memberikan kesempatan kepada tim emosi positif untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan. Maka, salah seorang dari tim yaitu Cinta, menjawab dengan singkat. “Terima kasih atas penjelasan dari Sombong. Untuk semua yang hadir di ruangan ini, saya hanya menegaskan bahwa semua yang di pilih manusia di atas, dilakukan saat ia berada pada kondisi “TIDAK SADAR”. Coba saja semua manusia di dunia ini memilih kami, emosi positif. Maka, mereka akan dapat menikmati hidup ini dengan indah. Mulailah segala sesuatu dengan CINTA, manusia pasti akan kembali pada kesadarnnya masing-masing. Terima kasih.” Semua orang langsung bertepuk tangan.
Tak lama setelah itu, Si Adil mengumumkan siapa pemenang dalam pertandingan emosi. Dalam kesempatan ini, juri benar-benar berupaya memilih yang terbaik. Argumen dari masing-masing tim sangat meyakinkan. Setelah di pilih, akhirnya tiba saat pengumuman pertandingan emosi. “Baik, saya telah memutuskan yang menjadi pemenang dalam pertandingan ini adalah… Emosi Positif.” Semua penonton bertepuk tangan, penonton juga merasakan sebuah emosi yang muncul dalam jiwa yaitu “Kebahagiaan”. Sementara itu, emosi negatif seharusnya berguru pada anggota dari kubu emosi positif, yaitu “Ikhlas”.