Cerpen oleh Sri Endah
Sahabatku Bagai Diamond
Biasanya wajah Yanti berbinar-binar saat mentari menyapa cerah paginya. Namun, hal serupa tak menghampiri raganya dihari ini. Entah mendung begitu pekat, dan udara pagi yang tak bersahabat, menambah suasana menjadi kaku. Dihantui rasa nyeri karena udara pagi terasa menusuk-nusuk tubuhnya. Pikiran kosong berlalu-lalang saat ini, semua sahabat kampus sudah tahu siapa Yati. Gadis yang periang, semangat, aktif dan energik. Nampaknya sifat Yati yang selalu berada di lintang utara, sekarang berpijak ke arah lintang selatan. Tentu saja hal itu terjadi, pasalnya Yati seperti seonggok daging yang sedang dihinggapi lalat-lalat yang tak ingin menjauh darinya, siapa lagi kalau bukan masalah. Ya, masalah bagaikan lalat dalam hidupnya. Ingin mengusir lalat, itulah yang difikirkan Yati hingga wajahnya tak lagi sumringah seperti biasa. Dengan nafas terhela-hela Intan sosok sahabat yang baru dikenalnya mengalihkan pikiran Yati kealam nyata. “Hei, Yati pulang yuk!, seperti patung liberty bawaanmu dari tadi. Apa kamu ikut daftar sebagai peserta audisi patung liberty? soalnya dalam kiamat 2012 patung itukan sudah hancur”, gumam Intan. Lenyap beterbangan disapu angin fikiran yang sebelumnya berkecamuk disaat suara jahil dari sahabatnya Intan datang. “Kamu Ntan, kebiasaan memotong pikiranku”. Dengan nada sedikit lembut.
Dua sahabat itu tengah berada disebuah kelas yang menjadi tempat mengasah ilmu dan mengukir cita-cita dan impian dari dua diamond yang berkilauan, berjuang bersama 48 generasi penerus bangsa lainnya. Kini suasana semakin sepi, dua menit berlalu dengan datar. Tak sepatah kata pun melebur dari celoteh dua sahabat itu. Kursi-kursi menyebar seperti pulau Indonesia, di pojok belakang kelas itu Yati dan Intan duduk saling berhadapan. “Yati, aku yakin pasti ratu masalah sedang berkecamuk dalam fikiranmu. Ceritakanlah padaku, apa yang tersimpan dalam hatimu, luapkanlah Yati. Kita sahabat, kita sudah cukup lama kenal pribadi. Tapi, persahabatan kita tak seburuk Tom And Jerry kan?”. Kepala Yati yang sebelumnya tertunduk rapat, perlahan menatap raut wajah sahabatnya. Posisi tangan kanan Intan melekat di pundak Yati. Ditambah lebar senyum Intan yang mencapai 100%. Saling kenal pribadi, itulah Yati dan Intan.
Kembali Intan meyakinkan sahabatnya. “Yati, kita belajar dari hidup, hidup mengajak kita untuk mengumpulkan brebagai pengalaman. Pengalaman sepahit empedu pernah kualami saat berjuang masuk kuliah. Ladang pencaharian ayah dan ibu dikampung dijual demi membayar uang pembangunan awal. Sekarang 2010, Negara kita sesak dengan orang-orang yang putus sekolah. Motivasi dan tekadlah yang membuatku berdiri bersamamu dikampus ini. Kamu percayakan?”. Jemari Intan semakin erat memegang tubuh Yati yang semakin rapuh. “Aku percaya Intan”. Tampaknya Yati mulai menyadari kenyataan yang sedang dialaminya. “Lantas, bagaimana kamu bisa setegar ini Ntan?”. Perlahan Intan menjawab “Kamu tahu, jika ada hidup yang pahitnya seperti empedu, disitulah kamu harus berusaha mencari jalan bagaimana menemukan manisnya hidup semanis madu. Do’a dan usaha kulewati. KepadaNya kita memohon. Tidak cukup dengan shalat wajib, shalat tahajud juga menemaniku sepanjang malam. Selang beberapa hari aku mendapat jalan, hasil SNMPTN keluar disalah satu surat kabar. Aku pergi ketempat surat kabar itu diterbitkan seraya memperlihatkan namaku yang tercantum dikoran. Kemudian aku menceritakan pengalaman pahit kepada mereka. Akhirnya aku mendapat bantuan berupa dana sebesar Rp. 3.000.000,00. Alhamdulillah, ternyata do’a dan usahaku tidak sia-sia. Hingga aku berniat mengganti uang ayah dan ibu yang sebeluumnya terpakai, meskipun tidak seutuhnya. Sisanya masih kusimpan dalam buku tabunganku”. Yati hanya bisa tersipu kagum melihat perjuangan sahabatnya yang membuahkan hasil.
Aku bangga padamu Intan, remaja sekarang hanya sanggup bertahan dari keringat usaha kedua orang tuanya. Hanya bisa menerima, tanpa berusaha mencarinya sendiri. Sama seperti aku!”. Mata Yati mulai berkaca-kaca, tetapi Intan berusaha menghibur sahabatnya. “Yati, semua sahabat kampus tahu siapa kamu, aku percaya Yati tidak akan serapuh ini. Berfikir positif akan membantumu Yati”. Yati perlahan berusaha menjauh dari lalat-lalat yang menghampirinya. Agar suasana lebih kondusif, Intan mengajak Yati beranjak dari ruangan yang cukup gelap itu. Mencari tempat nyaman diluar kelas yang penuh dengan bangunan-bangunan kokoh mengelilingi pandangan mata. “Yati, kita keluar yuk, disini tak ada siapa-siapa lagi. Terakhir didepan kelas masih ada Lia dan Dhani yang asyik berceloteh dengan riang. Diluar mungkin akan menyejukkan hati dan fikiranmu. Nanti kita cari tempat berteduh ya, aku ingin kamu menceritakan semuanya dengan jujur”. Simpati begitu meyakinkan pribadi Intan. “Baik, ujar Yati”. Perlahan dua remaja tersebut meninggalkan kelas dengan suasana kursi seperti pulau-pulau di Indonesia. Ruangan kelas kini sepi dan senyap.
Dibawah pepohonan yang rindang dua sahabat itupun duduk menguntai. Sedikit letih, tetapi rasa penasaran Intan masih menjadi teka-teki. “Sekarang ceritakanlah apa masalahmu dan aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu”. Yati menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Masalahnya cukup sepele, kamu percaya tidak, uang yang ada dalam dompetku hanya ini”. Yati memperlihatkan sehelai uang ribuan, satu koin lima ratusan dan dua koin seratusan. “Dengan ini aku harus bertahan untuk dua hari kedepan, sebelum ayah dan ibu mentransfer unag lewat rekening. Penghasilan ayah sebagai pedagang juga pas-pasan. Belum kagi masalah bagaimana nantinya membayar uang pembangunan ditambah semester sebesar Rp. 1.750.000,00. Aku ingin membantu mereka Intan, tapi apa dayaku!”. Intan kembali meyakinkan sahabatnya “Yati, masalah uang itu wajar. Apalagi posisi kita sebagai anak kos. Masih mending itu Yati, aku sepersenpun tak punya uang saat ini. Rencananya sekarang aku mau ke Bank, mengambil uang tabunganku secukupnya. Nanti pakailah uangku secukupnya menjelang kiriman itu datang. Aku ikhlas Yati, itulah gunanya sahabat”. Yati tidak tahu kata-kata apalagi yang mesti diucapkan pada sahabatnya itu. Terima kasih, sepertinya itu terlalu sederhana hingga rasa syukur dan haru menghiasi pelupuk mata Yati. “Aku.. aku tidak tahu harus bagaimana lagi Intan, kamu terlalu baik untukku”. Tetesan air matapun berjatuhan dan perlahan Intan menyapu bersih kembali air mata yang membasahi pipi sahabatnya itu. “Sudahlah, aku ikhlas. Sekarang tenang ya, masalah lain nanti kita pecahkan”. Yati kemudian menganggukkan kepalanya.
Dua sahabat itu bergegas menuju Bank. Setelah meminjamkan uangnya, Intan dan Yati pulang ketujuannya masing-masing. Kegelisahan Yati mulai redam. Setibanya dikos, ia beristirahat sejenak, kemudian shalat dzuhur dan makan siang. Ikan teri dan goreng tempe menjadi menu disiang itu. Yati teringat pada cucian yang sudah menumpuk. Ditempat kos yang sederhana, lantai papan yang berderik menyatu dengan langkah Yati kebawah sambil memeganag anak tangga dari kayu dan membawa seember pakaian kotor yang siap disulap menjadi bersih. Pekerjaan beres, rasa letih dan lelah meghampirinya. Tidak hanya letih tenaga, letih fikiran juga menerawang dalam benaknya. Disaat bersamaan terdengar bunyi Handphone pertanda satu pesan diterima. Setelah dibaca, ternyata pesan itu datang dari Intan ynag menyuruh Yati untuk datang kekampus secepatnya. Karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Secepat kilat Yati bergegas, mengganti pakaian, mengambil tas dan keluar meninggalkan kamar kos dalam keadaan acak-acakan. Rasa ingin tahu dan penasaran membuat semuanya jadi kacau. Yati mengayunkan langkahnya selebar mungkin, tak sabar bertemu sahabatnya.
Dari kejauhan Intan menanti Yati dengan seulas senyum. Nafas Yati terputus-putus sesaat tiba dihadapan Intan. “Ada apa Intan? Aku jadi penasaran". “Duduklah dulu, tadi aku kekantor menemui buk Lusi. Beliau sudah megetahui semua permasalahanmu lewat ceritaku pada beliau. Kebetulan aku sudah mengurus permohonan beasiswa, dan kamu disuruh kejurusan menemui buk Lusi. Karena ada formulir permohonan beasiswa yang harus diisi”. Terasa bagaikan mimpi, tapi ini kenyataan yang dilewati Yati. “Serius Intan, tapi… aku kan tidak ada menceritakan masalah beasiswa tadi. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah”. Yati memegang erat tangan sahabatnya. “Iya, serius. Sekarang pergilah kekantor dan temui beliau”. Semangat berapi-api menyala dari ucapan yang baru saja dilontarkan Intan. Yati semakin cepat mengayunkan langkahnya menemui buk Lusi. Setelah memberikan beberapa lembar formulir yang harus diisi, Yati segera memfotocopy formulir itu. Semua persyaratan harus dilengkapi seperti kartu keluarga, pas photo, surat keterangan pendapatan orang tua hingga harus membuka rekening tabungan.
Fikiran Yati tampaknya sudah mulai berubah, masalah yang tadinya seperti lalat, perlahan menjauh darinya, semua berkat Intan. Yati kembali menemui Intan yang sedang asyik mengotak-atik Handphone. “Bagaimana Yati, sudahb selesai?” Tanya Intan. Alhamdulillah, aku akan berusaha secepat mungkin melengkapi persyaratan yang harus dilampirkan. Berhubung hari masih siang, aku ingin membuka rekening tabungan. Intan... kamu…”. Belum sampai Yati meneruskan ucapannya, terhentak hatinya merangkul Intan, dengan erat dipeluk sahabatnya itu. Lagi-lagi air mata menjadi ekspresi wajah Yati saat itu. “Tenang Yati, insyaallah selagi aku bisa, aku akan membantumu. Hanya itu pertolongan yang sanggup kuhadiahkan untukmu. Sekarang fikiranmu sudah mulai tenang. Jadi, tetaplah menjadi pribadimu yang tak mudah rapuh dan goyah”. Pesan Intan sepertinya bagai memory yang wajib diingat oleh Yati.
“Pertolongan sangat bermakna bagiku, separuh uang yang aku pinjam padamu kugunakan untuk membuka rekening tabungan, sisanya untuk keperluan yang mendesak. Tidak hanya itu, kamu juga membantu bagaimana caranya aku mendapatkan formulir itu, dan uang itu sangat berguna bagiku nantinya”. Kembali Intan hanya membalasnya dengan senyuman. Sesuai dengan namanya, Intan adalah sahabat karib Yati yang berkilauan sinar kebaikannya bagai sebuah Diamond. Lalat sudah pergi, kini harapan Yati mendapatkan beasiswa, dan tetap menjadi pribadi yang periang. Namun, dibalik semua itu terpendam harapan dan do’a agar persahabatan mereka tetap berlanjut seterusnya, dan takkan lekang oleh panggilan waktu. Keduanya pulang ke tempat masing-masing, sedangkan Yati hari itu membawa oleh-oleh kebahagiaan. Intan penolong kesulitannya, sahabat yang memberikan inspirasi disetiap langkahnya. Tersimpan kata dalam hatinya “Sahabatku Bagai Diamond” (**).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar