MAKALAH
KAJIAN UNSUR INTRINSIK CERPEN
“WARUNG PENAJEM”

oleh
Sri Endah
18147/ 2010
Reguler. A
Pembimbing
Prof.Dr.Hasanuddin WS,M.Hum.
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Padang
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas limpahan rahmatNya, sehingga makalah sederhana ini dapat terselesaikan. Terima kasih kepada pembimbing Prof.Dr.Hasanuddin WS, M.Hum. yang telah memberikan sumbangsih fikiran demi kelancaran makalah ini. Terima kasih kepada teman-teman yang turut membantu memberikan masukan demi kesempurnaan makalah ini.
Cerpen sebagai karya fiksi menyajikan unsur intrinsik dan unsur ektrinsik.Menganalisis cerpen dari segi intrinsik mencakup (Gaya bahasa, Sudut pandang, Tokoh, Latar, Alur, Tema dan Amanat) sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam menganalisis sebuah karya fiksi.
Makalah ini berakar dari identifikasi unsur fiksi cerpen Warung “Penajem” yang telah diinterpretasi pada pembahasan sebalumnya.Pada materi sebelumnya, setiap unsur diidentifikasi dalam format berbentuk tabel yang digambarkan secara umum.Maka,bagian ini akan dikaji lebih mendalam satu persatu dengan mengacu pada berbagai pendapat para ahli.Tujuannya agar hasil yang diperoleh terjabar secara sistematis dan berdasarkan teori yang sudah ada.
Makalah ini terdiri dari tiga BAB. BAB I berisi uraian tentang Latar Belakang Masalah , Gambaran Umum Cerpen Warung “Penajem“ Karya Ahmad Tohari, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, serta Manfaat Penenlitian. BAB II membahas tentang Gaya Bahasa, Sudut Pandang, Tokoh,Latar,Alur,Tema dan Amanat. BAB III Penutup merupakan Kesimpulan dan Saran-Saran.
Makalah ini disajikan semaksimal mungkin, sehingga pembaca memahami materi yang disampaikan oleh penulis. Semoga makalah ini mempermudah penulis selanjutnya dalam mengkaji unsur intrinsik cerpen, khususnya Cerpen Warung “Penajem” Karya Ahmad Tohari.
Padang, Desember 2010
Sri Endah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... ...... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah...................................................................... 1
B. Gambaran Umum Cerpen Warung “Penajem” Karya Ahmad Tohari 4
C. Rumusan Masalah................................................................................. 9
D. Tujuan Penelitian .................................................................................. 9
E. Manfaat Penelitian.............................................................................. 10
BAB II PEMBAHASAN
A. Gaya Bahasa....................................................................................... 11
B. Sudut Pandang................................................................................... 15
C. Tokoh.................................................................................................. 16
D. Latar.................................................................................................... 19
E. Alur..................................................................................................... 21
F. Tema................................................................................................... 23
G. Amanat............................................................................................... 24
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................... 25
B. Saran-Saran......................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Cerpen merupakan salah satu jenis karya fiksi.Fiksi, sering pula disebut cerita rekaaan, ialah cerita dalam prosa,hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, dan penilaiannya tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, ataupun pengolahan tentang peristiwa-peristiwa yang hanya berlansung dalam khayalannya. Fiksi itu sendiri dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur yang membangun dari dalam fiksi itu sendiri(unsur intrinsik) dan unsur yang mempengaruhi penciptaaan fiksi dari luar(unsur ekstrinsik).Unsur intrinsik tersebut terdiri dari unsur utama dan unsur penunjang.Unsur utama adalah semua yang berkaitan dengan pemberian makna yang tertuang melalui bahasa. Sedangkan unsur penunjang merupakan segala upaya yang dilakukan dalam menmanfaatkan bahasa. Unsur utama itu sendiri terdiri atas gaya bahasa dan sudut pandang. Sedangkan unsur penunjang terdiri dari alur, latar, penokohan, permasalahan-permasalahan, tema dan amanat.
Dalam hal ini, yang dikaji adalah unsur intrinsik yang terdapat dalam sebuah cerpen. Cerpen memuat penceritaan yang memusat kepada satu peristiwa pokok. Sedangkan peristiwa pokok itu barang tentu tidak selalu “sendirian”, ada peristiwa lain yang sifatnya mendukung peristiwa pokok. Cerita pendek adalah karakter yang “dijabarkan” lewat rentetan kejadian daripada kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu.Apa yang “terjadi” didalamnya lazim merupakan suatu pengalaman atau penjelasan.Dan reaksi mental itulah yang pada hakikatnya disebut cerpen.Variasi cerpen dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: a) cerpen yang pendek(short short story), yaitu cerpen yang pendek sekali, berkisar 500-an kata, b) cerpen yang cukup panjang(middle short story), dan c) cerpen yang panjang(long short story), yaitu cerpen yang terdiri dari puluhan (atau bahkan beberapa puluh) ribu kata.
Didalam sebuah cerita pendek harus ada:
1. Cerita pendek mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik secara lansung atau tidak lansung.
2. Sebuah cerita pendek harus menimbulkan suatu hempasan dalam pikiran pembaca.
3. Cerita pendek harus menimbulkan perasaan pada pembaca, bahwa pembaca merasa terbawa oleh jalan cerita, dan cerita pendek pertama-tama menarik perasaan, baru kemudian menarik pikiran.
4. Cerita pendek mengandung perincian dan insiden-insiden yang dipilh dengan sengaja, dan yang bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca. Selanjutnya sebuah cerita pendek harus pula mengandung: (1) sebuah insiden utama yang menguasai jalan cerita, (2) seorang pelaku utama, (3) jalan cerita yang padat, (4) mencerminkan yang ketiga diatas sehingga tercipta satu “efek” atau SATU KESAN (impressie).
Setelah mengetahui hal apa saja yang harus ada dan terkandung dalam sebuah cerpen, hal lain yang perlu diketahui adalah ciri-ciri dari sebuah cerpen. Dapatlah kita katakan bahwa ciri-ciri cerpen ialah sebagai berikut: (1) Pada umumnya cerpen itu pendek (2) Yang ditampilkan pengarangnya ialah hal-hal yang penting dan benar-benar berarti. (3) Isinya singkat dan padat. (4) Didalamnya tergambar bagaimana tokoh ceritanya menghadapi suatu pertikaian dan apa tindakannya untuk menyelesaikan pertiakain itu. (5) Sanggup meninggalkan suatu kesan dalam hati pembacanya.Berdasarkan hal diatas jelaslah bahwa cerpen merupakan karya fiksi yang didalamnya mencakup unsur intrinsik dan unsur ektrinsik. Ringkasnya, cerpen adalah cerita pendek yang disajikan secara ringkas dan padat. Untuk membaca sebuah cerpen, seorang pembaca biasanya sanggup menyelesaikannya dalam satu atau dua kali baca,
Biasanya pengarang memperoleh sumber ceritanya dari penghidupan manusia sehari-hari. Ada yang benar-benar merupakan pengalaman pribadi seseorang, tetapi adapula hanya khayalan pengarangnya belaka. Jelas disini sebuah cerpen mengambil inspirasi kisah dari kisah nyata yang dirangkai dan disajikan dalam bentuk tulisan yang menarik. Atau bisa juga imajinasi pengarang bagaimana menarasikannya kepada pembaca.
Intinya, cerpen menyajikan sebuah peristiwa, yang memunculkan pertikaian atau konflik dan menuntut pengarang untuk menyelesaikan pertikaian tersebut melalui berbagai cerita tergantung bagaimana seorang penulis menarasikannya kedalam bentuk tulisan. Pada cerpen biasanya pengarang tidak melukiskan seluruh masa kehidupan pelakunya. Yang dipilih ialah sebagian saja, yang benar-benar mempunyai arti untuk ditampilkan.Bahagian yang dipilih itu memperlihatkan bahwa tokoh cerita tersebut menghadapi suatu pertikaian (conflict), serta bagaimana akhirnya pertikaian itu diselesaikan.
Sehingga, dengan menganalisis unsur fiksi dalam cerpen warung “Penajem” karya Ahmad Tohari mampu membawa kita untuk lebih berpengalaman dan lebih berpengetahuan dibidang sastra. Dimulai dengan menganalisis gaya bahasa, mudah dipahami, menarik, ataupun mengandung sugesti estetik.Dipaparkan pula posisi/ sudut pandang pencerita (narator), sebagai orang pertama dengan menggunakan teknnik aku-an, atau sebagai orang ketiga menggunakan tekniuk dia-an.
Disini juga berupaya menjelaskan tokoh-tokoh dengan mengidentifikasi tokoh secara fiisik ( misalnya kondisi tubuh, wajah, nama, usia, dan lain-lain). Kondisi psikhis ( peramah, pemarah, santun, nakal, dan lain-lain) dan interaksi tindakan dengan tokoh lain atas hubungan peran. Latar cerpen yang mencakup latar tempat, waktu dan suasana digambarkan suasana yang sesuai dengan logika cerita, dan membantu tercuatnya masalah utama fiksi. Demikian juga dengan alur, menjelaskan hubungkait peristiwa dalam alur hingga terasa padu dan berurutan berdasarkan logika cerita.
Tema yang menyajikan konflik berupa dalam diri tokoh (internal) maupun konflik antartokoh (eksternal) sehingga mengarah pada suatu pokok utama yang dapat diidentifikasi.Bagian lain yaitu amanat. Menjelaskan cerpen yang memberikan pesan berupa nilai-nilai yang sublim.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan pada poin sebelumnya, jelaslah bahwa mengkaji unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari membantu penulis untuk memahami dan mendalami pengetahuan yang berkaitan dengan sastra, khususnya dalam menganalisis unsur intrinsik sebuah cerpen. Tidak hanya itu, masih kurngnya pendalaman materi dibidang sastra dengan hadirnya analisis ini, membawa penulis untuk mengaktifkan kembali kreativitasnya yang selama ini belum maksimal dipaparkan.
B. Gambaran Umum Cerpen Warung “Penajem” Karya Ahmad Tohari
Dalam hal ini, disajikan gambaran umum yang terkait dengan Cerpen Warung “Penajem”.Mulai dari Ulasan judul cerpen, Pengarang cerpen Warung“ Penajem”, Identitas cerpen, hingga Garis besar isi cerpen.
- Ulasan Judul Cerpen
Cerpen yang dipaparkan disini berjudul Warung “Penajem”.Warung merupakan tempat sederhana, yang digunakan masyarakat untuk menjual barang-barang kebutuhan.Warung dari segi bentuknya lebih sederhana daripada toko.Selain bentuk fisik yang umumnya sederhana, juga dari segi kelengkapan barang-barang yang dijual. Biasanya sebuah warung menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti: makanan, minuman, keperluan memasak, dan lain-lain.Jika dibandingkan dengan toko yang lebih besar dan kapasitas barang-barang yang dijual lebih bervarisai, beragam dan dalam jumlah yang besar.Dalam cerpen ini, pengarang mendeskripsikan bagaimana sebuah warung kecil milik Jum, yang merupakan istri Kartawi, nama tokoh yang terdapat dalam cerpen ini. Ditegaskan dalam paragraf empat kalimat kedua dan ketiga, (Sosok Jum masih tampak jelas dalam rongga matanya, melayani tetangga yang membeli cabai, bumbu masak, atau ikan asin. Atau segala macam kebutuhan dapur para petani tetangga).
Judul cerpen adalah Warung “Penajem”. Setelah mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan warung,maka judul warung ditambah kata “penajem”.Ini merupakan sebuah istilah asing yang dapat dijumpai dalam bahasa Jawa. “Penajem” merupakan sesuatu yang bisa digunakan untuk memotong, menusuk.
Penajem disini memiliki makna konotasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:456) dijelaskan bahwa konotasi adalah “tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata”.Jadi, tidak mengandung nilai yang sebenarnya, makna yang tidak sebenarnya.Untuk memahami kata tersebut, dapat dijumpai pada paragraph kedelapan cerpen ini, yaitu pada kalimat ketujuh (Kartawi tahu penajem, yaitu syarat yang harus diberikan kepada dukun agar suatu upaya mistik berhasil, bisa berupa uang, ayam cemani, atau bahkan tubuh pasien sendiri).
Dari judul cerpen, dapat digambarkan bahwa Warung “Penajem” adalah sebuah tempat sederhana yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, keperluan dapur, dan lain-lain dengan memberikan sesuatu bersifat mistis, tujuannya agar warung tersebut laris oleh pembeli.Dengan adanya penajem, secara tidak lansung akan memikat minat pembeli untuk berbelanja ke warung tersebut. Cerpen ini mampu menyajikan judul yang menarik, ringkas, lugas dan memunculkan rasa ingin tahu yang tinggi dari sipembaca. Pembaca yang benar-benar membaca cerpen ini dengan rasa ingin tahu yang tinggi, akan mudah memahami maknanya setelah membaca keseluruhan isi cerpen.
- Pengarang Cerpen Warng “Penajem”
Cerpen yang berjudul Warung “Penajem” ini merupakan hasil tulisan fiksi dari seorang Ahmad Tohari.Beliau lahir di Tinggarjaya, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta(1967-1970), Faskultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto(1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).
Ronggeng Dukuh Paruk,Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala adalah novel trilogy, yang melukiskan dinamika kehidupan ronggeng didesa terpencil, Dukuh Paruk. Trilogi itu sangat terkenal. Ia pernah bekerja dimajalah terbitan BNI 46, Keluarga dan Amanah. Ia mengikuti Internatoinal Writng Program di Lowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995).
Karya Ahmad Tohari antara lain: Kubah(novel, 1980), Ronggeng Diukuh Paruk(novel,1985), Lintang Kemukus Dini Hari(novel, 1985),Jantera Bianglala(novel,1986),Di Kaki Bukit Cibalak(novel, 1986), Senyuman Karyamin(kumpulan cerpen,1989), Bekisar Merah(novel, 1993), Lingkar Tanah Lingkar Air(novel,1995), Nyanyian Malam(kumpulan cerpen, 2000), Belantik(novel,2001), Orang-Orang Proyek(novel, 2002),Rusmi Ingin Pulang(kumpulan cerpen,2004), Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan(novel bahasa Jawa,2006) meraih Hadiah Sastra Rancage 2007.
Pada cerpen Warung “Penajem” sastrawan ini melahirkan sebuah karya yang tak kalah menariknya dengan tulisan-tulisan kreatif lainnya.Ahmad Tohari, sastrawan yang masih berdarah Jawa, dalam cerpen ini masih kental menggunakan istilah Jawanya.
- Identitas Cerpen
Cerpen ini diterbitkan oleh media cetak KOMPAS, hari Minggu, tepatnya tanggal 13 Novenber 1994. Melihat pendapat yang dikemukakan lubis (1996:94) ”Panjang atau pendek sebuah cerita pendek itu habis sekali, dua kali atau tiga kali baca. Tetapi ini juga bukan sebuah pegangan,.Dapatlah kita katakan antara 500-1.000, 1.500-2.000 hingga 10.000, 20.000 atau 30.000 kata”. Cerpen Warung”Penajem” ini terdiri dari lebih kurang 1511 kata.Jika dikaitkan dengan pendapat Nurgiyantoro, 1995 yang telah dijelaskan sebelumnya maka cerpen ini dapat digolongkan kedalam variasi yang panjangnya cukupan (middle short story) karena jumlah kata yang dimiliki lebih kurang 1511 kata.Jika dilihat dari banyaknya paragraf maka cerpen ini berkisar lebih kurang 27 paragraf.
- Garis Besar Isi Cerpen
Cerpen yang berjudul Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari ini bercerita tentang realitas sosial masyarakat tradisional yang masih percaya pada kekuatan mistik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:588) dijelaskan bahwa mistis adalah “(1) subsistem yang ada di hampir semua agama dan system religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan;tasawuf;suluk; (2) hal-hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia yang biasa”. Disni terlihat bagaiman sosok Jum berusaha menjalani usaha dan mencapai kesuksesan melalui kekuatan Dukun atau orang pintar. Dukun itu dikenal dengan nama Pak Koyor.
Cerpen ini menggambarkan kepada pembaca bagaimana suasana sebuah masyarakat tradisional menjalani kehidupannya sehari-hari. Setiap keluarga mempunyai kisah tersendiri.Termasuk keluarga Jum dan Kartawi yang memiliki cita-cita sederhana, mempunyai warung dan membangun rumah tembok. Memang terlihat sederhana, karena bagi masyarakat kota itu hal yang lumrah. Jum dan Kartawi disini berperan sebagai tokoh utama. Dengan bantuan Kartawi yang membuatkan Jum sebuah warung kecil, ekonomi Jum perlahan hidup dari membuka warung. Jum telah menunjukkan usaha yang sederhana. Tujuan ini diprioritaskan untuk membantu ekonomi keluarganya.
Konflik disini hadir setelah uasaha Jum membuka warung yang tidak irasional, yang tidak realistis, dan kurang logis diterima masyarakat pada umumnya.Jelas bahwa realitas sosial masyarakat tradisional diperkampungan ini menggunakan kekuatan mistis melalui dukun seperti yang dilakukan Jum sendiri. Jum memberi “penajem” kepada warungnya. Dari sinilah istilah warung “penajem” diberikan kepada warung sederhana milik Jum.Irasionalitas dalam meraih kesuksesan dan keberhasilan ekonomi masyarakat tradisional ini berbeda drastis dengan masyarakat modern/ masyarakat kota yang mendasarkan keberhasilan ekonomi menggunakan pola manjemen yang baik, yang realitistis dan rasional. Mereka yakin usaha dan kerja keras akan membuahkan hasil. Hal ini ditegaskan hadirnya argument Jum pada paragraf tiga belas, kalimat kedua cerpen ini (Setiyar Kang, supaya warung kita tetap laris.Kamu tahu Kang,sekarang sudah banyak saingan).
Jelas disini bahwa Jum menunjukkan sifatnya yang masih percaya akan kekuatan mistis. Jum masih melihat bahwa dalam meraih sebuah keberhasilan ekonomi, maka usaha itu perlu diberi “penajem” dengan perantara dukun yang bernama Pak Koyor. Memberi “penajem” berarti memberi “sesaji”.Sesaji itu bermacam-macam, bisa berupa uang, ayam cemani, atau bahkan tubuh pasien sendiri.Jum telah memberikan sesaji yang terakhir.Dari sinilah lahir konflik dari puncak permasalahan.
Kartawi akhirnya marah karena sifat Jum yang menjawab dengan gamblang setiap pertanyaan dari suaminya, ia telah melakukan jalan yang salah dalam mencapai keberhasilan. Hal ini lah yang membuat Kartawi pergi meninggalkan rumah ulah perangai istrinya sendiri yang telah mendapat aib dari para tetangga. Namun, beberapa hari selanjutnya Kartawi akhirnya kembali ke rumah Karena kecintaannya kepada anak-anak. Bagaimanpun juga Kartawi harus menjalankan fungsinya sebagai kepala keluarga.Bathin sesungguhnya masih menyimpan amarah, yang membuatnya remuk setiap mengingat kembali peristiwa itu.
C. Rumusan Masalah
- Apakah gaya bahasa cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari mudah dipahami, menarik, mengandung sugesti estetik?
- Dimanakah posisi/sudut pandang pencerita(narator) dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari ?
- Apakah identifikasi tokoh dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahamd Tohari teridentifikasi secara fisik, psikhis, dan interaksi dengan tokoh lain atas hubungan peran?
- Apakah latar tempat, waktu dan suasana yang digunakan dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari sesuai dengan logika cerita dan membantu tercuatnya masalah utama fiksi?
- Apakah hubungkait antar peristiwa dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari padu dan berurutan berdasarkan logika cerita?
- Apakah konflik dalam diri tokoh (internal) dan atau konflik antartokoh(eksternal) dalam cerpen Warung “Penajem “ karya Ahmad Tohari mengarah pada satu pokok utama (masalah inti cerita) yang dapat diidentifikasi?
- Apakah cerpen Warung “Penajem “ karya Ahmad Tohari memberikan efek pesan berupa nilai-nilai yang sublim?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui gaya bahasa cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari mudah dipahami, menarik, mengandung sugesti estetik.
2. Untuk mengetahui posisi/sudut pandang pencerita(narator) dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari.
3. Untuk mengetahui identifikasi tokoh dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahamd Tohari teridentifikasi secara fisik, psikhis, dan interaksi dengan tokoh lain atas hubungan peran.
4. 4.Untuk mengetahui latar tempat, waktu dan suasana yang digunakan dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari sesuai dengan logika cerita dan membantu tercuatnya masalah utama fiksi.
5. Utuk mengetahui hubungkait antar peristiwa dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari padu dan berurutan berdasarkan logika cerita.
6. Untuk mengetahui konflik dalam diri tokoh (internal) dan atau konflik antartokoh(eksternal) dalam cerpen Warung “Penajem “ karya Ahmad Tohari mengarah pada satu pokok utama (masalah inti cerita) yang dapat diidentifikasi.
7. Untuk mengetahui cerpen Warung “Penajem “ karya Ahmad Tohari memberikan efek pesan berupa nilai-nilai yang sublim.
E. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat bagi, (a) penulis, untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis daalm bidang sastra, khususnya cerpen, (b) penelitian sastra selanjutnya sebagai bahan referensi penelitian.
2. Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi (a) pembaca, untuk menambah wawasan, (b) generasi muda daalm mengenal dan menyusuru kembali sastra, khususnya cerpen.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gaya Bahasa
Menurut Keraf (2005:113) “Akhirnya style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memeperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).Masalah pentingnya penggunaan gaya bahasa , dikemukakan oleh pendapat Muhardi dan Hasanuddin(1992:37) “Oleh sebab itu, penggunaan bahasa dalam fiksi merupakan bagian penting untuk diselidiki guna menunjang pemahaman informasi-informasi fisik demgan baik dan benar”. Dengan adanya pemahaman, maka seseorang mampu memilih tuturan dengan baik dan benar seperti pendapat semi (1998:53) “Gaya bahasa merupakan upaya yang dilakuakan seseorang menurut pilihannya untuk menimbulkan efek tertentu bagi tuturannya terhadap pembaca atau pendengar. Dalam buku Pengajaran Gaya Bahasa, menurut Tarigan(1985:6) “...a) gaya bahasa perbandingan, b) gaya bahasa pertentangan, c) gaya bahasa pertautan dan d) gaya bahasa perulangan.
Dalam cerpen Warung “Penajem “ dijumpai beberapa buah gaya bahasa . a) Personifikasi, dan b) Hiperbola.Keraf,(2005: 140) menyatakan bahwa “ Personifikasi atau prosopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-banrang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan”. Contohnya terdapat dalam kalimat berikut: ( Maka suara yang kering tajam , Wajah kemarau yang menghampar diatas dataran tanah berkapur, Kartawi merasa ada tekanan menusuk dadanya, Warung Jum langsung hidup, Berteman bayang-bayang sendiri, Suara dedaunan kering yang remuk terinjak mengiringi setiap langkah petani muda itu, Tatapannya menusuk mata istrinya).
Sedangkan Hiperbol menurut Keraf(2005:135) “Adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Contohnya terdapat dalam kalimat berikut( Pokoknya, Kartawi merasa jadi lelaki beruntung karena punya istri Jum, Kartawi merasa dirinya terayun-ayun dalam ketidakpastian yang sangat menyiksa, Ia merasa ada gelombang pasang naik dan menyebar keseluruh pembuluh darahnya.Kartawi melihat wilayah-wilayah pribadi tempat bersemayam harga diri kelelakiannya terinjak-injak).Umumnya gaya bahasa yang dijumpai berupa personifikasi dan hiperbola Personifikasi mencakup kedalam gaya bahasa perbandingan, sedangkan hiperbola mencakup gaya bahasa pertentangan.
Setelah diketahui gaya bahasa , dapat pula diketahui masalah bahasa penceritaan cerpen Warung “Penajem “ karya Ahamd Tohari ini sedikit sulit dipahami oleh pembaca non Jawa karena ada beberapa buah kata yang ditemukan menggunakan istilah-istilah khusus dalam bahasa Jawa. Akan tetapai mudah dipahami oleh pembaca yang mengerti dengan bahasa Jawa, khususnya masyarakat Jawa. Dari judul cerpen kita bisa menilai bahwa “penajem” merupakan sesuatu yang bisa digunakan untuk memotong, menusuk. Dari judul Warung “Penajem” berarti warung yang mempergunakan alat semacam yang tajam. Pada paragraf 6, kalimat kelima ditemukan pula kata ngelmu yaitu(Kata Jum yang mengaku telah tahu ngelmu perwarungan harus ada kayu dari pohon buah-buahan dalam bangunan warung). Kalimat lain yang juga menggunakan istilah Jawa terdapat dalam paragraf 7 kalimat kedelapan yaitu (Soalnya sederhana, punya istri yang pergi kulak dagangan naik sepeda motor sendiri adalah prestasi yang sulit disamai oleh sesama petani dikampungnya).
Paragraf 8 kalimat dua juga demikian (Entah darimana sumbernya para tetangga mengembangkan cas-cis-cus bahwa Jum pekan lalu tanpa setahu suami pergi mengunjungi Pak Koyor, orang pandai dari kampung sebelah). Kalimat 7 paragraf 8 juga demikian (Kartawi tahu penajem, yaitu syarat yang harus diberikan kepada dukun agar suatu upaya mistik berhasil, bisa berupa uang, ayam cemani atau bahkan tubuh pasien sendiri) .Pada paragraf 13 kalimat dua juga ditemukan yaitu(Setiyar Kang, supaya warung kita tetap laris).Kata eling juga ditemukan dalam paragraf 18 kalimat tujuh (Kang, saya masih eling).Istilah Jawa juga masih ditemukan dalam paragraf 23 pada kalimat pertama dan keenam.Pada kalimat pertama (Oalah Kang, bedanya banyak). Pada kalimat keenam yaitu (Kang, jika warung kita bertambah laris, kita juga yang bakal enak-kepenak bukan ?).Terakhir terdapat dalam pagragraf 26 kalimat 8 yaitu (Keluargaku bisa hidup wareg, anget,rapet).
Dibandingkan dengan cerpen Pelajaran Mengarang Karya Seno Gumira Adjidarma, baik masyarakat Jawa maupun masyarakat diluar Jawa mudah dipahami karena kata-kata yang dipakai lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang terdapat pada paragraf 2 Pelajaran Mengarang ini yaitu(Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pena pada kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya).
Cerita ini menarik karena kepercayaan Jum terhadap mistik begitu tinggi tanpa seutuhnya berfikir lebih realistis dalam memperoleh rezeki.Seperti yang terdapat dalam paragraf 6 kalimat keenam sebagai berikut (“Kang, kata orang-orang tua, kayu dari pohon buah-buahan bisa memancing selera pembeli,”.Kata Jum dulu kepada suaminya.) Tidak hanya itu, cerita ini lebih menarik lagi karena keinginan Jum untuk berhasil membuka warung mendapat kritik yang tidak menyenangkan dari para tetangga bahwa Jum telah membrikan penajem kepada Pak koyor, yaitu orang pandai yang memeberikan penglaris untuk warungnya. Cas-cis-cus tetangga inilah yang membuat Kartawi khawatir dan sebuah ketidakpastian menjadi tanda tanya dalam dirinya.Pernyataan ini terdapat dalam paragraf 8 (Tetapi mengapa sejak beberapa hari terakhir ini Kartawi mendengar selentingan para tetangga tentang Jum. Entah darimana sumbernya para tetangga mengembangkan cas-cis-cus bahwa Jum pekan lalu tanpa sepengetahuan suami pergi mengunjungi Pak Koyor, orang pandai dari kampung sebelah. Orang bilang Jum pergi kesana demi memperoleh penglaris bagi warungnya. Soal mencari penglaris Kartawi maklum bahkan setuju. Ya. Kartawi memang percaya, meraih cita-cita tidak cukup dilakukan dengan usaha nyata.Namun masalahnya, cas-cis-cus para tetangga telah mengembang lebih jauh; bahwa Jum telah memberikan penajem kepada Pak Koyor,.Kartawi tahu penajem, yaitu syarat yang harus diberikan kepada dukun agar suatu upaya mistik berhasil, bisa berupa uang, ayam cemani, atau bahkan tubuh pasien sendiri.Dan para tetangga bilang,Jum telah memberikan yang terakhir itu kepada sang dukun).
Cerita ini mengandung sugesti estetik yaitu berupa pengaruh nilai terhadap tokoh dalam cerpen ini. Sebagai pembaca, kita menjadi simpati terhadap Kartawi yang sayang pada keluarganya., terutama terhadap istrinya, Jum. Seperti yang terdapat pada paragraf 6 dalam kalimat satu, dua dan tiga (Setelah menjadi istri Kartawi, maka Jum tidak minta apa-apa kecuali dibuatkan warung yang sebenarnya. Kartawi menurut karena suami itu memang amat sayang kepada Jum. Maka Kartawi menjual dua ekor kambing dan menebang beberapa pohon, satu diantaranya pohon bacang. Tidak hanya itu, pembaca juga simpati terhadap sifat Kartawi yang memilih mengalah dan kembali pulang kerumah istrinya.Meskipun harus memendam amarah yang begitu besar terhadap istrinya. Terdapat dalam paragraf 26 kalimat 1 sampai 4 yaitu (Pada hari keempat Kartawi pulang.Rindunya kepada rumah, kepada anak-anak dan kepada Jum tak tertahankan.Bagaimana juga Jum dan anak-anak sudah lama menjadi bagian hidup Kartawi sendiri.Kemarahan yang amat sangat tak mampu mengeluarkan Jum dari inti kehidupannya).
Cerita ini juga memunculkan sugesti antipati terhadap Jum, meskipun disisi lain Jum adalah pekerja keras demi mewujudkan cita-citanya. Disini Jum terlalu serakah dalam mencapai keberhasilan ekonomi. Jum telah melakukan jalan yang salah dalam memajukan usaha warungnya. Dengan jalan memberi penajem untuk warungnya tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu pada Kartawi. Apalagi Jum memberikan penajem yang berakibat fatal bagi harga dirinya sebagai seorang istri, bagi suami dan anak-anak sehingga keluarganya mendapat gossip yang tidak sedap dari tetangga. Pasalnya, Jum telah memberikan tubuhnya sendiri kepada Pak koyor sebagai tumbal. Hal ini terdapat dalam paragraf 8 kalimat kedua, ketujuh dan kedelapan yaitu ( Entah darimana sumbernya para tetangga mengembangkan cas-cis-cus bahwa Jum pekan lalu tanpa sepengetahuan suami mengunjungi Pak Koyor,orang pandai dari kampung sebelah. Kartawi tahu penajem, yaitu syarat yang harus diberikan kepada dukun agar suatu upaya mistik berhasil, bisa berupa uang, ayam cemani atau bahkan tubuh pasien sendiri.Dan para tetangga bilang,Jum telah memberikan yang terakhir itu kepada sang dukun).
B. Sudut Pandang
Menurut Atmazaki(2005: 107) berpendapat bahwa “Sudut pandang atau pusat pengisahan merupakan tempat berada narrator dalak menceritakan kisahnya. Setiap kalimat didalam kaarya sastra naratif merupakan perkataan yang diucapkan oleh seseorang”. Sedangkan pengertian sudut pandang yang dijelaskan oleh Muhardi dan Hassanuddin (1992:32-33)
Bahwa “Sudut pandang merupakan suatu cara bagi pembaca untuk mendapatkan informasi-informasi fiksi , … Teknik pengarang mengemukakan informasi dapat dibedakan menjadi teknik dia-an dan teknik aku-an.Teknik dia-an adalah pengarang menceritaskan tokoh-tokoh ceritanya dengan anggapan bahwa tokoh tersebut merupakan orang ketiga dalm teknik berkomunikasi.Teknik aku-an adalah pengarang menenpatkan dirinya sebagai orang pertama dalam berkomunikasi atau menjadikan dirinya sebagai atau seolah-olah tokoh utama cerita”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam mengkaji unsur intrinsik cerpen, kita mengenal adanya dua posisi pencerita (narator) didalam cerita tersebut. Yang pertama posisi narrator sebagai teknik aku-an dan kedua, posisi narrator sebagai teknik dia-an.Menggunakan teknik aku-an pengarang lebih banyak bercerita tentang diri pribadinya sendiri atau pengalamannya sendiri. Kata-kata yang lazim dijumpai dalam tulisan tersebut adalah “aku”.Berbeda dengan teknik dia-an, disini narrator tidak lagi bercerita tentang dirinya sendiri melainkan tentang orang lain. Kata-kayta yang lazim dijumpai adalah nama orang atau kata ganti orang ketiga seperti (Aminah, Pak Koyor, Kartawi, tetangganya, mereka, dan lain-lain).Dapat diambil kesimpulan bahwa posisi pencerita(narrator) dalam cerpen Ahmad Tohari yang berjudul Warung “Penajem” adalah diluar cerita.Hal yang diceritakan oleh narrator bukanlah cerita tentang dirinya sendiri. Cerpen ini menceritakan tentang orang lain yang tidak lain adalah (Kartawi, Jum,Pak Koyor, para tetangga, dan anak-anak). Sehingga tidak ditemukannya masalah yang menceritakan langsung tentang narrator. Karena narrator menceritakan kisah tokoh lain, maka teknik yang digunakan adalah teknik cerita dia-an.
Argumentasi dapat kita temukan pada paragraf 5 kalimat pertama yaitu (Kartawi tahu segalanya tentang Jum sejak istrinya itu masih ingusan).
C. Tokoh
Dalam memahami tokoh dan perwatakannya, maka dapat diketahui secara analaitik, langsung memaparkan tentang watak atau karakter tokoh tersebut, seperti keras hati, jeras kepala, penyayang, dan lain-lain. Selanjutnya secara dramatis, menggambar perwatakan tanpa diceritakan langsung, dapat diketahui lewat: 1) pilihan nama tokoh, (2) penggambaran fisik/postur tubuh dan (3) melalui dialog (semi, 1998:39-40).Sementara Muhardi dan Hasanuddin (1992:24) berpendapat bahwa” Dalam hal penokohan termasuk masalah penamaan, pemeranan, keadaan pisik, keadaan psikis, dan karakter”.
Pendapat yang tidak jauh berbeda ditegaskan lebih lanjut oleh Lubis(1996:97-98) “Pada umumnya jika kita membaca cerita –cerita pendek atau roman, timbullah dalam pikiran kita bayangan dari rupa, wajah, bentuk dan sifat-sifat (watak pribadi) pelaku-pelaku dalam ceriat-cerita itu…Sifat-sifat pelaku –pelaku itu ada dua macam: a. Sifat-sifat lahir(rupa, bentuk) b. Sifat-sifat dalam (watak, pribadi)”.
Jadi, dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari ini dapat diidentifikasi watak tokoh secara fisik, psikis dan karakter lewat pembuktian dan penjelasan yang ditegaskan dengan berdasarkan isi cerpen. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya:
1. Kartawi
Fisik: Muda, menggunakan caping bambu, memakai kaos oblong, raut wajah yang lesu, dengan kondisi tubuh yang lelah.
Argumentasi : Dalam paragraf 1 kalimat 4 (Dan petani muda itu terus mengayunkan cangkul).Kalimat 6 (Kaos oblong yang dipakai Kartawi sudah basah oleh keringat).Kalimat 8 (Dan dibawah bayangan caping bambu yang dipakainya, wajah Kartawi tampak lebih tua dan berdebu). Paragraf 3 (Otot-ototnya serasa kehilangan tenaga).
Psikhis: Penyayang, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, dan melampiaskan emosi tanpa menyakiti orang lain.
Argumentasi : Menyatakan Kartawi mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terdapat dalam paragraf 10 kalimat satu (Karena sadar hanya Jum sendiri yang bisa memberinya kejelasan, Kartawi memutuskan segera pulang meskipun hasil kerja siang itu sama sekali belum memadai.Paragraf 12 kalimat pertama (Maka pertanyaan tentang cas-cis-cus para tetangga itu baru bisa diajukan oleh Kartawi ketika malam sudah larut).
Menyatakan Kartawi melampiaskan emosi tanpa menyakiti orang lain dalam paragarf 17 kalimat 4 dan 6 (Jum menyembunyikan wajah karena mengira kartawi akan memukulnya). Dan (Tidak, Kartawi ternyata bisa menahan diri meski seluruh tubuhnya bergetar karena marah).
2. Jum
Fisik: Muda, segar, dan masih kuat.
Argumentasi: Terdapat dalam paragraf 4 kalimat 4 dan 5 yaitu (Jum yang segar dan kuat. Jum yang punya hasrat besar punya rumah tembok, televisi, dan sepeda motor bebek).
Psikhis: Percaya mistik, berambisi tinggi, dan berlagak acuh dalam menghadapi masalah.
Argumentasi : jum percaya mistik, dalam paragraf 6 kalimat 6 yaitu (“Kang, kata orang-orang tua, kayu dari pohon buah-buahan bisa memancing selera pembeli).Terdapat pula argument pada paragraf 8 kalimat 2 yaitu (Entah darimana sumbernya para tetangga mengembangkan cas-cis-cus bahwa Jum pekan lalu tanpa setahu suami pergi mengunjungi Pak Koyor, orang pandai dari kampung sebelah).
Argumentasi yang menunjukkan jum berambisi tinggi pada paragraph 4 kalimat 6 (Dan demi cita-cita itu Jum merasa tak punya jalan kecuali bekerja keras dan mau menempuh segala upaya agar warungnya maju dan laris).
Argumentasi paragraf yang menyatakan Jum berlagak acuh terdapat dalam paragraf 13 kalimat pertama (“Ya,Kang, pekan lalu saya memang pergi kepada Pak Koyor,” kata Jum dalam gaya tanpa beban).Terdapat pula dalam paragraf 23 kalimat pertama dan kedua yaitu (“Oalah Kang, bedanya banyak,.karena Cuma main-main maka begitu-begitu yang saya lakukan itu tidak sampai kehati).
3. Pak Koyor
Fisik : Terlihat tua
Argumentasi pada paragraf 8 kalimat 6 (Namun masalahnya, cas-cis-cus para tetangga mengembang lebih jauh; bahwa Jum telah memberikan penajem kepada Pak koyor).
Psikhis: Dukun (orang pandai) yang serakah
Argumentasi paragaraf 8 kalimat 7 (Kartawi tahu penajem, yaitu syarat yang harus diberkan kepada dukun agar suatu upaya mistik berhasil bisa berupa uang, ayam cemani, atau bahkan tubuh pasien sendiri).
4. Tetangga
Fisik: Mayoritas ibu-ibu, istri para petani
Argumentasi terdapat dalam paragraf 4 kalimat 2 (Sosok Jum masih tampak jelas dalam rongga matanya, melayani tetangga yang membeli cabai, bumbu masak atau ikan asin).
Psikhis: Dalam paragraf 9 kalimat 2 dan 3 Dalam hati(Kartawi berharap selentingan para tetangga itu Cuma omong kosong.Mungkin mereka iri melihat warung Jum laris sehingga mereka sengaja meniupkan cerita macam-macam, pikir Kartawi.
5. Anak-anak
Fisik: Tidak teridentifikasi dengan jelas.
Psikhis: Tidak ikut campur dalam konflik keluarga.
Argumentasi dalam paragraf 12 kalimat 2 yaitu (Anak-anak pun sudah lama tertidur).
D. Latar
Muhardi dan Hasanuddin (1992:39) mengatakan bahwa “Latar merupakan penanda identitas permasalahan fiksi yang mulai secara samar diperlihatkan alur atau penokohan.Jika permasalahan fiksi sudah diketahui melalui alur atau penokohan, maka latar memperjelas suasana, tempat, dan waktu peristiwa itu berlaku.”.Pendapat lain dari para ahli menamakan latar sebagai landasan tumpu.Latar atau landas tumpu (setting) cerita merupakan lingkungan tempat atau ruang yang diamati, waktu, hari, tahun, musim atau periode sejarah (semi,1998:46).Pendapat ini tidak jauh berbeda dari kesimpulan unsur latar yang dikemukakan oleh Nurgiyantoro.disini ditegaskan unsur latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya suatu peristiwa dalam karya fiksi.Latar waktu berkaitan dengan masalah “kapan” terjadinya suatu peristiwa dalam karya fiksi.Sedangkan latar suasana hampir tidak jauh berbeda dengan latar sosial yang menekankan pada hal yang berkaitan terhadap tingkah laku kehidupan sosisal masyarakat disuatu tempat.
Sehingga pendapat Muhardi dan Hasanuddin (1992:31) “…maka jelaslah kedukdukan latar disamping penokohan dan alur dalam membangun permasalahan fiksi”.Sehingga latar tempat, waktu dan suasana dalam cerpen ini dapat memebantu tercuatnya masalah fiksi dengan perincian sebagai berikut:
1. Tempat :
a. Disebuah ladang yang kering kerontang.
Argumentasi ; paragraf 1 kalimat 1 ( bunyi yang kering dan tajam selalu terdengar setiap kali mata cangkul Kartawi menghujam tanah tegalan yang sudah lama kerontang)
b. Dibawah pohon johar
Argumentasi ; paragraf 4 kalimat pertama ( Kartawi berdiri dalam keteduhan pohon johar yang masih mempertahankan daun-daun terakir.
c. Di jalan , simpang 4 kecil
Argumerntasi : paragraf 10 kalimat 4 ( pada sebuah simpang empat kecil, lelaki itu berbelok ke arah timur)
d. Di rumah Kartawi dan Jum
Argumentasi : paragraf 11 kalimat pertama ( ketika sampai di rumah , Kartawi melihat Jum sedang melayani beberapa pembeli )
e. Di ruang istirahat keluarga
Argumentasi ; paragraf 12 kalimat ke-3 ( dan Jum yang saat itu sedang duduk menikmati televisi tampak tak berminat menanggapi pertanyaan suaminya).
f. Di halaman rumah
Argumentrasi : paragraf 26 kalimat 5 ( namun sampai di halaman , Kartawi termangu)
2. Waktu
a. Musim kemarau di siang hari yang terik
Argumentasi paragraf 1 kalimat 5 ( maka suara yang kering – tajam, percikan debu dan sentakan-sentakan otot terus runtut terjadi di bawah matahari kemarau yang terik) dan pada paragraf 2 kalimat 4 ( kedua matanya menyipit dan menerawang datar ke depan).
b. Di sore hari
Argumentasi ; paragraf 11 kaliamt 3 ( namun ternyata suami yang sedang memendam kejengkelan itu harus menahan diri sampai sore hari malah malam hari)
c. Di malam hari
Argumentasi ; paragraf 12 kalimat 1 (maka pertanyaan suami benar tidaknya cas-cis-cus para tetangga itu baru bisa diajukan oleh Kartawi ketika malam sudah larut).
3. Suasana
a. Panas, karena musim kemarau
Argumentasi : paragraf 1 kalimat 6 ( kaus oblong yang dipakai Kartawi sudah basah oleh keringat)
b. Menegangkan
Argumentasi : paragraf 17 kalimat pertama ( tangan Kartawi meraih gelas yang seperti hendak diremukannya dalam genggaman)
c. Mencekam
Argumentasi : paragraf 24 kalimat 4 dan 5 ( detik berikut terdengar suara gelas hancur terbanting di lantai. Kartawi keluar setelah membanting pintu keras-keras)
E. Alur
Pengertian alur dijelaskan oleh Muhardi dan Hasanuddin (1992:28-29)berpendapat bahwa” Hubungan antara satu peristiwa atau sekelompok peristiwa denanga peristiwa atau kelompok peristiwa yang lain disebut dengan alur.Alur tersebut bersifat kausatif karena hubungan yang satu dengan yang lainnya menunjukkan hubungan sebab akibat”. Sementara, istilah alur dikenal juga dngan plot. Disini semi (1998:43) mendefenisikan bahwa “Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruahan fiksi.Dengan demikian, alur itu merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita”.
Berdasarkan pengertian diatas dapat ditegaskan bahwa alur menuntut seorang pembaca berhadapan dengan berbagai peristiwa yang terjadi, disini terdapat sebuah hubungan sebab akibat yang saling runtut satu sama lain.Sehingga dalam cerpen Warung “Penajem” karya Ahmad Tohari ini disajikan sebuah alur dan mengaitkannya dengan peristiwa yang ada.
Cerita ini dumlai dari siang hari yang begitu panas pada musim kemarau di saat Kartawi tengah bekerja di sebuah ladang yang kering kerontang. Disaat Kartawi beristirahat dibawah pohon johar , Ia teringat kembali akan sosok Jum, istrinya. Argumentasi ini terdapat pada paragraf 4 kalimat 1 dan 2 ( Kartawi berdiri dalam keteduhan pohon johar yang masih mempertahankan daun-daun terahir. Sosok Jum masih tampak jelas dalam rongga matanya, melayani tetangga yang membeli cabai , bumbu masak atau ikan asin).
Dengan mengingat istrinya, Kartawi teringat kembali akan hal yang tidak menyenangkan tentang Jum. Argumentasi ini terdapat pada paragraf 8 kalimat 2 ( entah darimana sumbernya , para tetangga mengembangkan cas-cis-cus bahwa Jum pekan lalu tanpa setahu suami pergi mengunjungi pak Koyor, orang pandai dari kampung sebelah.
Setelah itu, Kartawi pulang kerumah dan meninggalkan pekerjannya yang terbengakalai. Argumentasi ini terdapat dalam paragraf 10 kalimat 1 ( karena sadar hanya Jum sendiri yang bisa memberinya kejelasan, Kartawi memutuskan segera pulang meskipun hasil kerja siang itu sama sekali belum memadai.
Mengetahui kebenaran itu , Kartawi pergi meninggalkan rumah. Argumentasi ini terdapat dalam paragraf 24 kalimat 2 , 3 dan 4 ( Kartawi bangkit. Detik berikut terdengar suara gelas hancur terbanting ke lantai. Kartawi keluar setelah membanting pintu keras-keras)
Alur cerita tidak hanya berhenti disitu, karena kejadian itu, Kartawi selama 3 hari pergi meninggalkan rumah. Argumentasi ini terdapat dalam paragraf 25 kaliamat 1 (selama 3 hari Kartawi lenyap dari rumah). Setelah menyadari, akhirnya pada hari keempat Kartawi kembali pulang kerumah mengingat akan kelaurganya. Meskipun konflik belum berakhir. Argumentasi ini terdapat dalam paragraf 26 kaliamt 1 ,2 dan 3 ( pada hari keempat , Kartawi pulang. Rindunya kepada rumah, kepada anak-anak dan kepada Jum tak tertahankan. Bagaimanapun juga, Jum dan anak-anak sudah lama menjadi bagian hidup Kartawi sendiri).
F. Tema
Semi (1998:42) menyinggung sedikit tentang tema, “… sedangkan tema merupakan tulisan atau karya fiksi”. Menurut Robert Stanton, 1965(Dalam semi 1998:42), menyebutkan “Theme” as that meaning of a story which specially accounts of the largest number of its elements in the simplest way”.Sehingga yang dapat dijadikan sebuah tema yaitu sebuah topik atau pokok pembicaraaan dan tujuan yang akan dicapai oleh pengarang dngan topiknya tadi(semi, 1998:42).Lebih ringkasnya Muhardi dan Hasanuddin (1992:38) mengungkapkan bahwa “Tema adalah inti persoalan yang hendak dikemukakan pengarang dalam karyanya.Oleh sebab itu, tema merupakan hasil konklusi dari berbagai peristiwa yng terkait dengan penokohan dan latar.Dapat dijelaskan pada bagiian ini dengan menggunakan format ilmiah,maka tema dalam cerpen Ahmad Tohari yang berjudul warung penajem dapat ditemukan. Format tersebut adalah sebagai berikut.
Format Ilmiah menentukan tokoh utama
Tabel 1.1
| Nama Tokoh | Indikator | ||
| Menyita sebahagian besar penceritaan | Terlibat hampir seluruh dengan tokoh cerita | Mendomonasi dan menjadi pusat masalah/ cerita | |
| Kartawi | X | X | X |
| Jum | X | X | X |
| Pak Koyor | X | --- | --- |
| Tetangga | --- | --- | X |
| Anak-anak | --- | --- | --- |
Dapat diidentifikasi bahwa tokoh utama dalam cerpen ini adalah Kartawi dan Jum.
Format Ilmiah Menentukan Tema
Tabel 1.2
| Persoalan masalah dalam cerita | Indikator | ||
| Persoalan yang menyita sebahagian besar waktu penceritaan | Persoalan yang melibatkan hampir seluruh tokoh utama | Persoalan yang mendomonasi dan menjadi pusat perhatian narator | |
| Musim kemarau di lading | X | --- | --- |
| Kehidupan masyarakat disebuah kampong | X | --- | X |
| Realitas sosial masyarakat tradisional yang mempercayai mistik demi kekayaan ekonomi | X | X | X |
Jadi tema yang terdapat dalam cerpen ini adalah Realitas sosial masyarakat tradisional yang mempercayai mistik demi kekayaan ekonomi
G. Amanat
Cerpen warung penajem karya Ahmad Tohari mampu memberikan efek pesan yang baik berupa nila-nilai yang berlaku secara universal; dan membuat pembaca bisa menginstropeksi diri ( nilai yang sublim ) sehingga, diperolah amanat yang bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi pembaca cerpen ini. Amanat secara umum , yaitu kebahagiaan hakiki bukanlah kebahagiaan materi semata. Amanat yang diperoleh dari tokoh Kartawi yaitu mempetahankan keutuhan keluarga adalah tanggung jawab seorang suami. Amanat yang diperoleh dari tokoh Jum yaitumemperoleh rezeki dengan jalan yang salah tidak akan membawa berkah. Amanat yang diperoleh dari tokoh pak Koyor yaitu, berpikir irasional tidak akan membantu kita seutuhnya. Amanat yang diperoleh dari tokoh para tetangga yaitu susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Cerpen merupakan karangan singkat yang menyajikan suatu peristiwa berdasarkan konflik. Terdapat dua unsur dalam sebuh karya fiksi, diantaranya unsur instrinsik dan unsur ekstrimsik. Pengkajian unsur intrinsik mencakup beberapa aspek seperti : Gaya bahasa, Sudut pandang, Tokoh, Latar, Tema, dan Amanat.
Cerpen “Warung Penajem” karya Ahmad Tohari menggunakan gaya bahasa yang menarik. Umumnya gaya bahasa menggunakan majas personifkasi dan hiperbola. Meskipun beberapa kata menggunakan istilah Jawa seperti : Penajem, Setiar, Eling, Kulak, dan lain-lan. Akan tetapi menarik untuk dibaca dan mengandung sugesti estetik. Sudut pandang menggunakan teknik dia-an seperti (Kartawi, Jum, Pak Koyor, Para tetangga, dan lain-lain). Penceritaan cerpen di wujudkan melalui tokoh baik secara fisik, psikis, maupun interaksi tindakan dengan tokoh lain atas hubungan peran. Tokoh Jum dapat teridentifikasi sebagai orang yang giat berusaha, akan tetapitidak realistis.
Latar disini berkisah umumnya di sebuah perkampungan sederhana dengan melukiskan latar tempat seperti di warung Jum, di sawah maupun diladang. Latar waktu terjadi di saat musim kemarau yang terik, dan latar suasana yang sibuk dengan aktifitas sehari-hari masyarakat tradisional. Alur cerpen Warung “Penajem” terstruktur secara kronologis dan menghasilkan peristiwa-peristiwa yang salng berkaitan. Dimulai dari kartawi berda di sawah hingga berakhir di halaman rumah.
Dengan menggunakan format ilmiah, maka dapat di identifikasi persoalan masalah dalam cerita yang menyajikan tema berupa realita sosial masyarakat tradisional yang mempercayai mistik demi kepentingan ekonomi. Terakhir, amanat berupa pesan dan nilai-nilai yang sublim. Dengan memahami penceritaan cerpen Warung “Penajem” tergambar sebuah amanat bahwa kebahagiaan hakiki bukanlah kebahagiaan materi semata.
B. Saran-Saran
Setelah kajian unsur intrinsik cerpen ini dibahas dan disimpulkan, maka dikemukakan saran-saran kepada :
- Disarankan kepada pembaca agar lebih kritis dan berfikir rasional dalam mencapai cita-cita. Keberhasilan ekonomi akan terwujud dengan usaha sungguh-sungguh, dan kekuatan mistis bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai kesuksesan.
- Disarankan kepada mahasiswa untuk lebih kritis dan lebih cermat dalam mengkaji unsur intrinsic yang terdapat dalam sebuah cerpen. Karena dalam menganalisis unsur-unsurnya diperlukan pengetahuan kognitif yang sistematis dan mengacu pada pemahaman teoretis.
DAFTAR PUSTAKA
Atmazaki. 2005. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia.
Keraf, Gorys.2005. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Lubis, Mocthar. 1996. Sastra dan Tekhniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Muhardi dan Hasanuddin. 1992. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: IKIP Padang Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Semi, Atar. 1998. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Tarigan, Henry Guntur.1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa Bandung.
Tohari, Ahmad. 2008. Biografi Sastrawan, (Online), (http://jalansetapak.wordpress.com, diakses 2 Desember 2010).

thanks atas infonya .. :)
BalasHapussalam kenal yah..
saya mahasiswa unja semester enam jurusan bahasa inggris
saya ditugaskan untuk mengfanalisa cerpene warung penajem dan makalah yang mbak berikan memberikaN SAya informasi lebih
trimakasih
follow ke blog saya juga ya mbak
pebrinapirmani.blogspot.com