Aku benci pada hidup ini,,
Aku jemu pada waktu,,
Aku muak pada pengalaman,,
Nadi-nadiku ingin berhenti,,
Ah... aku muak!!
Maenjauhlah,,
Aku ingin tenang,,
Di tempat orang-orang yang sudah tenang,,
Tapi... aku tak ingin MATI akal,,
aku ingin MATI kekal,,
Dengan begitu aku bebas,,
Dari pelayaran hidupku,,
Aku tak ingin MATI akal...
(kupersembahkan bagi mereka yang senantiasa melamat-lamat alur hidup ini...)
Selasa, 14 Februari 2012
Kamis, 02 Februari 2012
Cer_Ber (Cerpen Bersambung) 1
”A”
Cepen sederhana dan bermakna
Oleh: Sri Endah
“Tidaaaakkkk…!”. Jeritan itu terdengar sangat histeris. Namun kata-kata itu baru saja di lamat oleh gadis belia yang sedang di sekap mimpi buruk. Segera Mutia menghentakkan kakinya ke arah pintu, mengambil gelas dan masuk ke dalam kamar kos. Keheningan malam itu membuat Mutia melamun sesaat. Panas di jiwa selaras dengan keringat yang mengalir di tubuhnya. Setelah mendeguk segelas air, matanya semakin nanar. “Aku takut pada mimpi, aku ingin bermimpi namun bukan itu yang kupinta illahi”. Gadis itu baru saja di hujam oleh celoteh dan ejekan dari orang-orang terdekatnya. Masih sempat ia merekam beberapa kata yang dilontarkan oleh Selly bahwa ia sang pendominasi yang memangsa wilayah sahabat kampusnya. Ya, Mutia dalam mimpi itu di tuding sebagai sosok gadis egois hingga semua teman-teman benci pada posisinya.
Peristiwa itu bermula cukup sederhana, di saat penampilan diskusi kelompok, beberpa tim maju ke depan sebagai tim penyaji. Namun, kesempatan itu tak di raih oleh Mutia karena dosen mengaduk secara acak nama-nama mahasiswa untuk tampil ke depan. Diskusi berlangsung cukup hangat. Mutia saat itu tengah di hujani smangat berjuang dan berdebat dngan rekan-rekannya. “Saudari Mutia, maksud Anda dalam diskusi ini menguji kami atau Anda sungguh-sungguh tidak tahu jawabnnya”. Ujar Selly dengan bengisnya. Entah setan apa yang membuat Selly sejak awal merasa geram dengan sikap Mutia. Padahal tak sedikitpun Mutia menorehkan kesalahan kepada Selly, selama ia mengenal Selly sebgai teman satu kelasnya.
Secara tegas Mutia memancarkan aura pribadinya untuk menjawab pertanyaan tadi. ”Untuk saudari ketahui, saya bertanya bukan untuk menguji. Jika saja hal itu saya lakukan dalam diskusi ini, maka waktu yang di berikan Buk Tina hanya sia-sia. Sya ingin menggali lebih dalam sejauh mana pertanyaan saya bias di analisa oleh kelompok penyaji. Mudah-mudahan saudari paham”. Sepertinya pertandingan adu fikiran berlangsung sengit, layaknya seperti pertandingan bola. “Baiklah, jika itu yang saudari tanyakan. Tapi, alngkah baiknya kita tanyakan dulu pada Buk Tina, apakah materi ini cakupannya melenceng dari konsep”. Tampaknya Selly meghalang-halangi Mutia untuk akti di kelas. “Bagaiman menurut pendapat Ibu?”. Tanya Selly dengan tukas. “Silahkan saudara jelaskan karena pertanyaan Mutia masih ada kaitannya dengan materi yang kita bahas. Seisi kelas hanya diam, spertinya perang dingin antara Mutia dan Selly segera di mulai.
*** Bersambung… :)
Asal usul Nama Desa Lubuk Ipuh
Legenda-Sumatera-Minangkabau- Nurmi, 74, Perempuan
Desa Lubuak Ipuah Ibu rumah tangga, Minangkabau,
Minangkabau, Indonesia
Lubuak Ipuah
7 April 2011
Lubuak Ipuah
Masyarakaik dulu biasonyo sabalum urang merdeka, picayo samo alam gaib. Itu pun bisa barupo adat samo ritual. Bantuak lainnyo dapek wak caliak dari picayo jo alam gaib. Dulunyo ado Tek Gadijah punyo kasam ka Tek Limah. Jadi, Tek Gadijah malapehan kasamnyo tu lewat batang cubadak tumbuah e di balakang rumah Tek Limah. Kajadian tu lansuang mambaleh ka Tek Limah waktunyo lah mulai sakik. Badannyo sasak angok raso di kabek. Siap dikaji, kironyo Tek Limah sadang bakasam samo Tek Gadijah. Waktu Tek Limah marasoan sakik tu kironyo Tek Gadijah aniang-aniang alah mangabekan kain kapan ka batang cubadak Tek Limah.
Kajadian tu hampia sarupo, dulunyo ado basobok banyak batang ipuah. Urang dakek situ manyabuik bantuak batang tu gadang, siap tu daunnyo babahayo kalau tasingguang dek urang-urang. Soalnyo daun tu punyo gatah. Kalau tangan atau badan awak yang kanai gatahnyo, tangan wak ndak lamo siap tu taraso gata-gata atau malapuah dek ulah gata tadi.
Dek karano itu, kalau ado induak-induak yang nio manjamua an pakaiannyo, ndak buliah manjamua di mungko rumah. Soal e, kalau nyo ndak ati-ati, nyo ka kanai dek gatah pohon ipuah tadi. Apolai wak caliak kasus Tek Gadijah jo Tek Limah tadi, yang sadang bakasam. Gatah tu bisa dijadian urang tu untuak malapehan kasam. Bisa je gatah tu diambiaknyo siap tu di gosok annyo ka sarawa dalam yang sadang tajamua. Siap tu, urang yang punyo sarawa dalam tu bisa gata-gata atau ado badannyo yang kanai sarupo takah tu lo.
Karano banyak bana batang ipuah tu nan tumbuah, ndak jauah dari batang aia, tumbuah nyo pun banyak dakek tampek-tampek yang banamo lubuak. Jadi lamo sudah tu, masyarakaik manamoan e jo “Lubuak Ipuah” aratinyo banyak batang ipuah tumbuahnyo dakek sungai tu. Itulah caritonyo asa mulo namo Lubuak Ipuah.
Kelompok 10,
Air Tawar Selatan-Padang
Kebiasaan masyarakat sebelum kemerdekaan selalu identik dengan alam gaib, baik dalam hal kepercayaan ataupun dalam adat dan ritual. Salah satunya tentang cara untuk menjaga diri kejahatan yang dilakukan melalui kepercayaan alam ghaib. Dahulunya ada dua orang tetangga yang saling berselisih paham, maka tetangga yang sedang bermusuhan tersebut akan melakukan sesuatu dengan tujuan untuk mencelakakan musuhnya. Menurut cerita, ada tokoh yang bernama Tek Gadijah punya dendam kepada Tek Limah, maka Tek Gadijah melakukan balas dendamnya melalui batang cubadak atau yang dikenal dengan pohon nangka yang ada di belakang rumah Tek Limah. Reaksi dari kejahatan itu langsung terlihat disaat Tek Limah, menderita sakit, seluruh badannya terasa sesak seperti diikat. Setelah ditelusuri, ternyata Tek Limah sedang berselisih paham dengan Tek Gadijah. Saat Tek Limah, merasakan hal seperti itu, ternyata Tek Gadijah telah melilitkan kain kapan ke batang atau pohon “cubadak” Tek Limah.
Tidak jauh berbeda dari kasus di atas, di sebuah tempat terdapat banyak batang ipuah atau pengindonesiaanya dikenal dengan “ipuh”. Ipuah merupakan istilah masyarakat pribumi yang artinya sejenis batang yang besar dan daunnya sangat berbahaya apabila tersentuh oleh penduduk. Hal itu dikarenakan pada daun itu terdapat getah. Apabila tangan atau anggota tubuh masyarakat terkena getah tersebut, maka masyarakat akan menderita penyakit seperti tangan melepuh atau bagian tubuh yang terkena getah tersebut akan gatal-gatal.
Untuk itu, para ibu-ibu yang ingin menjemurkan pakaian di masa itu dilarang menjemur pakaian didepan rumah. Alasanya, bagi mereka yang tidak hati-hati akan terkena getah dari pohon ipuh tersebut. Terutama jika ada tetangga yang sedang berselisih paham. Getah pohon ipuh itu yang dijadikan alat untuk membalas dendam. Bisa saja getah itu oleskan pada pakaian dalam yang sedang dijemur maka orang tersebut akan menderita penyakit gatal-gatal maupun anggota tubuh yang terkena akan berkuman.
Berhubung batang ipuh itu banyak tumbuh tidak jauh dari sungai, dan tumbuhnya pun di tempat-tempat yang disebut dengan “lubuk”, maka lama kelamaan masyarakat menamakan tempat itu dengan nama “lubuak ipuah” yang artinya banyak terdapat pohon ipuh tumbuh disekitar lubuk yang ada didekat sungai. Demikianlah penamaan legenda asal mula nama “lubuak ipuah”.
Kelompok 10,
Air Tawar Selatan-Padang
Langganan:
Postingan (Atom)