Sabtu, 14 Desember 2013

Cerpen-Si Oon yang Oon-Sri Endah


Si Oon yang Oon
Oleh: Sri Endah
Cerpen ini pernah dimuat di surat kabar Padang Ekspres 03 Februari 2013
Oon menghembuskan semangat pagi ini. Jendela itu perlahan melebar, sambil terdengar derikan yang halus. Rasa syukur, senantiasa menjalari kehidupannya. Badannya kurus mungil tinggal kulit pembalut tulang. Baginya, hari ini adalah hari kiamat. Oon sudah siap dengan ocehan Amaknya. Suara khas berita kesayangan Abaknya pagi itu menggema. Lagi-lagi, kasus korupsi menjadi hidangan pagi di seluruh nusantara. Oon bergumam dalam hati, ”Masa bodoh dengan korupsi di negeri ini!”
”Oon…! Sudah jago waang nak?” teriak Amak dari luar kamar berdinding triplek. Ya, suara khas Minang itu selalu terdengar setiap paginya. Oon benar-benar anak yang oon, dia tidak pernah menyahut teriakan Amaknya. Oon termangu sejenak, menimbang-nimbang lingkaran kehidupannya yang akan bobrok. Nilai rafor dibagikan hari ini.
Perjalanan menuju sekolah. Dari kejauhan terlihat buram mobil-mobil yang beringsut, selalu begitu. Di kawasan Tunggul Hitam, kota Padang. Matahari perlahan merayap ke puncak langit. Ketukan halus menyapa batinnya. Oon menatap tajam dahan-dahan tanpa daun, kering kerontang. Imajinasi membenamkan pikirannya untuk mengetahui jati dirinya. Di mata teman-teman, Oon adalah siswa yang paling bodoh. Setiap penerimaan rafor selalu menyabet rangking 49 dari 49 siswa. Teman-teman memberi julukan ”Si Oon yang Oon”. Oon pertama namanya, Oon kedua sifatnya yang oon (di eja o-on) alias bodoh, tolol, atau begok.
 Namun, dalam menjalani hari-harinya Oon tidak pernah putus asa. Meskipun teman-teman di sekolah selalu mengucilkannya. Baginya, setiap manusia sudah diciptakan oleh tuhan dengan kemampuannya sendiri. Bukannya menerima takdir, melainkan Oon sejak dari kecil selalu belajar untuk mandiri. Oon bahkan setiap hari mendapat teriakan yang tak sedap dari Mak nya. Oon selalu dibilang sebagai anak yang idiot. Padahal, ada hal yang melatarbelakangi mengapa Oon bersikap demikian.
Suatu hari, ketika Oon masih berusia enam tahun, ia memiliki kesalahan besar. Mak Oon yang bekerja sebagai penjual kue di Pasar Raya Padang, setiap paginya selalu berangkat ke pasar. Pagi itu Oon tanpa sengaja menabrak keranjang kue Maknya. Akibatnya, semua kue yang siap untuk dijajakan berserakan ke lantai yang masih beralas tanah. Kue-kue tersebut bercampur dengan pasir, kotor. Mak Oon tak bisa berjualan lagi. Akibat kejadian itu Mak Oon sempat berteriak dan menyumpahi anaknya dengan kata-kata ”Dasar anak setan! Kerja waang menyusahkan orangtua saja. Waang benar-benar petaka di rumah ini. Pantas saja nama waang Oon. Waang benar-benar Oon!” Kalimat dari Mak mengakibatkan Oon setiap malamnya terus berpikir.
Setiap Oon dimarahi, Mak selalu mengulang kalimat yang hampir sama. Hari berganti minggu, bulan, bahkan tahun. Mental Oon semakin melemah akibat tekanan batin yang bertubi-tubi diterimanya. Oon di sekolah selalu mendapat nilai yang menyedihkan. Bahkan, semester yang lalu Oon mendapat peringkat paling akhir di kelasnya. Sambil berjalan menuju sekolah, Oon bergumam dalam hati ”Hmm… pasti nilaiku jelek lagi. Pasti Mak marah lagi, pasti teman-teman menertawaiku lagi, dan pasti aku tambah Oon lagi”.
Tiba-tiba sebuah pohon yang sudah kering kerontang yang berada di pinggir jalan menyapa Oon dengan halus. ”Hei… lihat ke belakang anak muda. Lihat aku, pohon yang sudah tak berdaun hijau lagi. Pohon yang dibatangnya tertancap reklame Terima Jasa Sedot WC. Hub: 0813******”. Oon perlahan memperlambat ayunan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Kemudian berhenti, ya ketika itu pikiran Oon berimajinasi dengan sebatang pohon yang daunnya sudah berwarna cokelat. Oon memutar langkahnya, lalu mendekati pohon tersebut.
”Pohon, apakah kamu yang memanggilku barusan?” tanyanya. Pohon menjawab ”Ya. Benar sekali anak muda. Kuperhatikan keningmu berkerut tujuh lapis. Sepertinya masalah yang kamu hadapi begitu besar. Apakah yang sedang terjadi anak muda?” Oon mulai angkat bicara ”Pohon, saya sedih. Hari ini saya menerima rafor. Sayangnya, saya pesimis. Sudah pasti saya mendapat nilai yang menyedihkan lagi. Saya ingin belajar, namun setiap kali memulainya, kalimat makian dari Mak terus menghantui.”
”Yang sabar anak muda. Kamu bukanlah orang yang bodoh atau oon seperti yang orang-orang bilang tentangmu. Kamu hanya saja tidak bisa mengendalikan rasa tertekan yang membebanimu. Kamu seharusnya lebih rajin, dan kamu harus sadar bahwa orangtuamu setiap harinya bekerja. Kamu harus menjadi anak yang mandiri.” Oon membalas ”Tidak mungkin pohon. Saya sudah di cap sebagai anak yang oon. Itu sesuai dengan nama saya Oon. Tapi…” suara Oon tiba-tiba terputus.
Pohon melanjutkan percakapan, ”Tapi kamu tidak pernahkan membalas mulut orang-orang yang selalu meremehkanmu. Malah kamu semakin terpurukkan dengan omongan mereka? Itu artinya kamu pesimis dalam kehidupan ini.” Oon menghela napas panjang dan membalas ”Saya sudah paham pohon. Tapi, Mak saya selalu marah-marah, bahkan saya jengkel pohon!” Suasana sejenak hening, Pohon kembali menasehti Oon. ”Anak muda, jangan berpikiran yang tidak baik. Buktinya, orangtuamu setiap hari bekerja. Kuperhatikan dua hari yang lalu makmu lewat di sini. Wajahnya sama denganmu, namun sempat terdengar ucapannya: Mudah-mudahan si Oon semester ini bisa naik kelas. Kalau begitu, aku tidak perlu membiayai dua kali untuk uang sekolahnya seperti tahun kemarin. Jika si Oon sudah tamat sekolah, nanti dia bisa menggantikanku untuk berjualan kue di pasar. Nak, nak, semoga kamu bisa naik kelas.
Oon terdiam mendengar cerita pohon yang sudah kering kerontang itu. Oon menyesali atas sikapnya yang selama ini putus asa dalam menjalani kehidupan. ”Benarkah pohon? Berarti selama ini Mak sayang pada saya. Jika nilai semester ini jelek lagi, saya tidak putus asa. Saya harus rajin belajar dan memperjuangkan nilai. Ya, harus cepat-cepat tamat sekolah dan bisa menolong Mak di pasar. Mak sekarang sudah tua,” cerita Oon dengan semangat.
”Syukurlah. Aku senang mendengar semangatmu. Aku juga di ejek oleh teman-temanku karena bentukku yang sudah kering kerontang. Namun, aku masih mempunyai harapan agar suatu hari nanti aku bisa kembali hijau. Bukankah sekarang nasib kita sama-sama belum beruntung? Iyakan anak muda.” Senyum Oon perlahan melebar, ”Iya juga ya pohon. Masih banyak yang harus kita lakukan di kehidupan ini. Baiklah, aku pergi dulu ya pohon,” ujar Oon.
”Oh ya sebelum kamu pergi ingat pesanku. Suatu hari ketika kamu sudah pintar dan berhasil kamu harus bisa memanfaatkan kemampuanmu. Jangan seperti sebagian orang yang pintar di negeri ini. Mereka pintar, sayangnya licik. Buktinya banyak dari mereka yang korupsi. Mungkin ini nasehat untukmu, agar kamu tidak di cap sebagai koruptor.” Oon membalas ”Pasti pohon. Yang jelas setelah saya tamat sekolah saya akan membantu Mak jualan kue di pasar.”
”Dasar kamu, memang ya. Sesuai namamu, hilangkan penyakit itu. Maksudku, kamu boleh bercita-cita lebih tinggi dari itu. Misalnya, mempunyai toko kue yang besar dan dikenal banyak orang.” Oon tersenyum cengengesan, ”Oh ya, benar juga ya. Jadi, Mak tidak bekerja lagi di hari tuanya. He..he.. Terima kasih ya pohon. Hari ini saya ingin mengubah sikap, namun nama saya biarlah tetap Oon. Yang penting orangnya tidak oon.”
Pohon tersenyum, kemudian berkata ”Bagus sekali, nasehatku semoga bermanfaat untukmu.” Klakson sepeda motor begitu nyaring. Oon yang tadinya melamun, kembali tersadar. Ia baru sadar bahwa dirinya sudah berada di tengah jalan raya. Cerita berkahir, Oon kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar