Si
Oon yang Oon
Oleh:
Sri Endah
Cerpen ini pernah
dimuat di surat kabar Padang Ekspres 03 Februari 2013
Oon
menghembuskan semangat pagi ini. Jendela itu perlahan melebar, sambil terdengar
derikan yang halus. Rasa syukur, senantiasa menjalari kehidupannya. Badannya
kurus mungil tinggal kulit pembalut tulang. Baginya, hari ini adalah hari
kiamat. Oon sudah siap dengan ocehan Amaknya. Suara khas berita kesayangan
Abaknya pagi itu menggema. Lagi-lagi, kasus korupsi menjadi hidangan pagi di
seluruh nusantara. Oon bergumam dalam hati, ”Masa bodoh dengan korupsi di
negeri ini!”
”Oon…!
Sudah jago waang nak?” teriak Amak
dari luar kamar berdinding triplek. Ya, suara khas Minang itu selalu terdengar
setiap paginya. Oon benar-benar anak yang oon, dia tidak pernah menyahut
teriakan Amaknya. Oon termangu sejenak, menimbang-nimbang lingkaran
kehidupannya yang akan bobrok. Nilai rafor dibagikan hari ini.
Perjalanan
menuju sekolah. Dari kejauhan terlihat buram mobil-mobil yang beringsut, selalu
begitu. Di kawasan Tunggul Hitam, kota Padang. Matahari perlahan merayap ke
puncak langit. Ketukan halus menyapa batinnya. Oon menatap tajam dahan-dahan
tanpa daun, kering kerontang. Imajinasi membenamkan pikirannya untuk mengetahui
jati dirinya. Di mata teman-teman, Oon adalah siswa yang paling bodoh. Setiap
penerimaan rafor selalu menyabet rangking 49 dari 49 siswa. Teman-teman memberi
julukan ”Si Oon yang Oon”. Oon pertama namanya, Oon kedua sifatnya yang oon (di
eja o-on) alias bodoh, tolol, atau begok.
Namun, dalam menjalani hari-harinya Oon tidak
pernah putus asa. Meskipun teman-teman di sekolah selalu mengucilkannya.
Baginya, setiap manusia sudah diciptakan oleh tuhan dengan kemampuannya
sendiri. Bukannya menerima takdir, melainkan Oon sejak dari kecil selalu
belajar untuk mandiri. Oon bahkan setiap hari mendapat teriakan yang tak sedap
dari Mak nya. Oon selalu dibilang sebagai anak yang idiot. Padahal, ada hal
yang melatarbelakangi mengapa Oon bersikap demikian.
Suatu
hari, ketika Oon masih berusia enam tahun, ia memiliki kesalahan besar. Mak Oon
yang bekerja sebagai penjual kue di Pasar Raya Padang, setiap paginya selalu
berangkat ke pasar. Pagi itu Oon tanpa sengaja menabrak keranjang kue Maknya.
Akibatnya, semua kue yang siap untuk dijajakan berserakan ke lantai yang masih
beralas tanah. Kue-kue tersebut bercampur dengan pasir, kotor. Mak Oon tak bisa
berjualan lagi. Akibat kejadian itu Mak Oon sempat berteriak dan menyumpahi
anaknya dengan kata-kata ”Dasar anak setan! Kerja waang menyusahkan orangtua
saja. Waang benar-benar petaka di rumah ini. Pantas saja nama waang Oon. Waang
benar-benar Oon!” Kalimat dari Mak mengakibatkan Oon setiap malamnya terus
berpikir.
Setiap
Oon dimarahi, Mak selalu mengulang kalimat yang hampir sama. Hari berganti
minggu, bulan, bahkan tahun. Mental Oon semakin melemah akibat tekanan batin
yang bertubi-tubi diterimanya. Oon di sekolah selalu mendapat nilai yang
menyedihkan. Bahkan, semester yang lalu Oon mendapat peringkat paling akhir di
kelasnya. Sambil berjalan menuju sekolah, Oon bergumam dalam hati ”Hmm… pasti
nilaiku jelek lagi. Pasti Mak marah lagi, pasti teman-teman menertawaiku lagi,
dan pasti aku tambah Oon lagi”.
Tiba-tiba
sebuah pohon yang sudah kering kerontang yang berada di pinggir jalan menyapa
Oon dengan halus. ”Hei… lihat ke belakang anak muda. Lihat aku, pohon yang
sudah tak berdaun hijau lagi. Pohon yang dibatangnya tertancap reklame Terima Jasa Sedot WC. Hub: 0813******”. Oon
perlahan memperlambat ayunan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Kemudian
berhenti, ya ketika itu pikiran Oon berimajinasi dengan sebatang pohon yang
daunnya sudah berwarna cokelat. Oon memutar langkahnya, lalu mendekati pohon
tersebut.
”Pohon,
apakah kamu yang memanggilku barusan?” tanyanya. Pohon menjawab ”Ya. Benar
sekali anak muda. Kuperhatikan keningmu berkerut tujuh lapis. Sepertinya
masalah yang kamu hadapi begitu besar. Apakah yang sedang terjadi anak muda?”
Oon mulai angkat bicara ”Pohon, saya sedih. Hari ini saya menerima rafor.
Sayangnya, saya pesimis. Sudah pasti saya mendapat nilai yang menyedihkan lagi.
Saya ingin belajar, namun setiap kali memulainya, kalimat makian dari Mak terus
menghantui.”
”Yang
sabar anak muda. Kamu bukanlah orang yang bodoh atau oon seperti yang
orang-orang bilang tentangmu. Kamu hanya saja tidak bisa mengendalikan rasa tertekan
yang membebanimu. Kamu seharusnya lebih rajin, dan kamu harus sadar bahwa
orangtuamu setiap harinya bekerja. Kamu harus menjadi anak yang mandiri.” Oon
membalas ”Tidak mungkin pohon. Saya sudah di cap sebagai anak yang oon. Itu
sesuai dengan nama saya Oon. Tapi…” suara Oon tiba-tiba terputus.
Pohon
melanjutkan percakapan, ”Tapi kamu tidak pernahkan membalas mulut orang-orang
yang selalu meremehkanmu. Malah kamu semakin terpurukkan dengan omongan mereka?
Itu artinya kamu pesimis dalam kehidupan ini.” Oon menghela napas panjang dan
membalas ”Saya sudah paham pohon. Tapi, Mak saya selalu marah-marah, bahkan
saya jengkel pohon!” Suasana sejenak hening, Pohon kembali menasehti Oon. ”Anak
muda, jangan berpikiran yang tidak baik. Buktinya, orangtuamu setiap hari
bekerja. Kuperhatikan dua hari yang lalu makmu lewat di sini. Wajahnya sama
denganmu, namun sempat terdengar ucapannya: Mudah-mudahan
si Oon semester ini bisa naik kelas. Kalau begitu, aku tidak perlu membiayai
dua kali untuk uang sekolahnya seperti tahun kemarin. Jika si Oon sudah tamat
sekolah, nanti dia bisa menggantikanku untuk berjualan kue di pasar. Nak, nak,
semoga kamu bisa naik kelas.”
Oon
terdiam mendengar cerita pohon yang sudah kering kerontang itu. Oon menyesali
atas sikapnya yang selama ini putus asa dalam menjalani kehidupan. ”Benarkah
pohon? Berarti selama ini Mak sayang pada saya. Jika nilai semester ini jelek
lagi, saya tidak putus asa. Saya harus rajin belajar dan memperjuangkan nilai.
Ya, harus cepat-cepat tamat sekolah dan bisa menolong Mak di pasar. Mak
sekarang sudah tua,” cerita Oon dengan semangat.
”Syukurlah.
Aku senang mendengar semangatmu. Aku juga di ejek oleh teman-temanku karena
bentukku yang sudah kering kerontang. Namun, aku masih mempunyai harapan agar
suatu hari nanti aku bisa kembali hijau. Bukankah sekarang nasib kita sama-sama
belum beruntung? Iyakan anak muda.” Senyum Oon perlahan melebar, ”Iya juga ya
pohon. Masih banyak yang harus kita lakukan di kehidupan ini. Baiklah, aku
pergi dulu ya pohon,” ujar Oon.
”Oh
ya sebelum kamu pergi ingat pesanku. Suatu hari ketika kamu sudah pintar dan
berhasil kamu harus bisa memanfaatkan kemampuanmu. Jangan seperti sebagian
orang yang pintar di negeri ini. Mereka pintar, sayangnya licik. Buktinya
banyak dari mereka yang korupsi. Mungkin ini nasehat untukmu, agar kamu tidak
di cap sebagai koruptor.” Oon membalas ”Pasti pohon. Yang jelas setelah saya
tamat sekolah saya akan membantu Mak jualan kue di pasar.”
”Dasar
kamu, memang ya. Sesuai namamu, hilangkan penyakit itu. Maksudku, kamu boleh
bercita-cita lebih tinggi dari itu. Misalnya, mempunyai toko kue yang besar dan
dikenal banyak orang.” Oon tersenyum cengengesan, ”Oh ya, benar juga ya. Jadi,
Mak tidak bekerja lagi di hari tuanya. He..he.. Terima kasih ya pohon. Hari ini
saya ingin mengubah sikap, namun nama saya biarlah tetap Oon. Yang penting
orangnya tidak oon.”
Pohon
tersenyum, kemudian berkata ”Bagus sekali, nasehatku semoga bermanfaat
untukmu.” Klakson sepeda motor begitu nyaring. Oon yang tadinya melamun,
kembali tersadar. Ia baru sadar bahwa dirinya sudah berada di tengah jalan
raya. Cerita berkahir, Oon kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar