”A”
Cepen sederhana dan bermakna
Oleh: Sri Endah
“Tidaaaakkkk…!”. Jeritan itu terdengar sangat histeris. Namun kata-kata itu baru saja di lamat oleh gadis belia yang sedang di sekap mimpi buruk. Segera Mutia menghentakkan kakinya ke arah pintu, mengambil gelas dan masuk ke dalam kamar kos. Keheningan malam itu membuat Mutia melamun sesaat. Panas di jiwa selaras dengan keringat yang mengalir di tubuhnya. Setelah mendeguk segelas air, matanya semakin nanar. “Aku takut pada mimpi, aku ingin bermimpi namun bukan itu yang kupinta illahi”. Gadis itu baru saja di hujam oleh celoteh dan ejekan dari orang-orang terdekatnya. Masih sempat ia merekam beberapa kata yang dilontarkan oleh Selly bahwa ia sang pendominasi yang memangsa wilayah sahabat kampusnya. Ya, Mutia dalam mimpi itu di tuding sebagai sosok gadis egois hingga semua teman-teman benci pada posisinya.
Peristiwa itu bermula cukup sederhana, di saat penampilan diskusi kelompok, beberpa tim maju ke depan sebagai tim penyaji. Namun, kesempatan itu tak di raih oleh Mutia karena dosen mengaduk secara acak nama-nama mahasiswa untuk tampil ke depan. Diskusi berlangsung cukup hangat. Mutia saat itu tengah di hujani smangat berjuang dan berdebat dngan rekan-rekannya. “Saudari Mutia, maksud Anda dalam diskusi ini menguji kami atau Anda sungguh-sungguh tidak tahu jawabnnya”. Ujar Selly dengan bengisnya. Entah setan apa yang membuat Selly sejak awal merasa geram dengan sikap Mutia. Padahal tak sedikitpun Mutia menorehkan kesalahan kepada Selly, selama ia mengenal Selly sebgai teman satu kelasnya.
Secara tegas Mutia memancarkan aura pribadinya untuk menjawab pertanyaan tadi. ”Untuk saudari ketahui, saya bertanya bukan untuk menguji. Jika saja hal itu saya lakukan dalam diskusi ini, maka waktu yang di berikan Buk Tina hanya sia-sia. Sya ingin menggali lebih dalam sejauh mana pertanyaan saya bias di analisa oleh kelompok penyaji. Mudah-mudahan saudari paham”. Sepertinya pertandingan adu fikiran berlangsung sengit, layaknya seperti pertandingan bola. “Baiklah, jika itu yang saudari tanyakan. Tapi, alngkah baiknya kita tanyakan dulu pada Buk Tina, apakah materi ini cakupannya melenceng dari konsep”. Tampaknya Selly meghalang-halangi Mutia untuk akti di kelas. “Bagaiman menurut pendapat Ibu?”. Tanya Selly dengan tukas. “Silahkan saudara jelaskan karena pertanyaan Mutia masih ada kaitannya dengan materi yang kita bahas. Seisi kelas hanya diam, spertinya perang dingin antara Mutia dan Selly segera di mulai.
*** Bersambung… :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar